Rhany Chairunissa Rufinaldo
04 Oktober 2018•Update: 04 Oktober 2018
Zuhal Demirci dan Fatih Hafız Mehmet
ANKARA
Organisasi D-8 untuk Kerja Sama Ekonomi berusaha menggandakan perdagangan di antara negara-negara anggota, kata kepala organisasi itu.
"Kami sedang mempertimbangkan untuk menggandakan perdagangan di antara negara-negara anggota," kata Sekretaris Jenderal Dato 'Ku Jaafar Ku Shaari kepada Anadolu Agency dalam sebuah wawancara eksklusif pada Selasa.
Organisasi D-8 diluncurkan pada 15 Juni 1997, setelah perdana menteri Turki, Necmettin Erbakan, mengusulkan pembentukan kelompok ekonomi yang terdiri dari delapan negara berkembang dari dunia Muslim, termasuk Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Turki.
Rencana ini menerima tanggapan positif dari sektor swasta dan pemerintah, Shaari mengatakan, penambahan ini menempatkan fokus pada keterlibatan sektor swasta dalam kegiatan D-8.
Organisasi itu, yang dimulai 21 tahun lalu dengan komitmen kuat dari negara-negara anggota, dapat memperoleh kekuatan dengan dinamisme baru, kata sang ketua.
"Saya diyakinkan oleh negara-negara anggota bahwa mereka ingin melihat D-8 menjadi organisasi ekonomi yang sangat penting," katanya.
Rencana kerja sama baru
Shaar mengatakan para pemimpin memberikan ide baru untuk mengadopsi rencana kerja sama saat KTT tahun lalu di Istanbul.
Rencana baru, yang bertujuan untuk memperluas kerja sama di antara negara-negara anggota, melampaui kolaborasi di daerah di mana perdagangan, industri, pertanian, transportasi, energi dan pariwisata telah diterapkan, menurut Shaar.
"Tapi sekarang kami memperluasnya dan memasukkan bidang kerjasama lain seperti kesehatan, ilmu pengetahuan, teknologi, sektor keuangan, dan sebagainya. Jadi kami berusaha untuk mengeksplorasi kemungkinan memperluas kerja sama kami lebih banyak lagi," katanya.
Juga menyebutkan surat pernyataan minat yang ditandatangani dengan pihak Bandara Sabiha Gokcen di Istanbul, Shaar mengatakan perjanjian itu menunjuk bandara Turki sebagai bandara pertama D-8.
"Jadi, kami sedang mencari bandara lain di negara-negara anggota, dengan harapan bahwa kami dapat membentuk asosiasi D-8 khusus yang akan menyediakan jaringan udara antara negara-negara anggota" kata Shaari.
Zona industri di antara anggota D-8
Sekretaris Jenderal juga mengatakan bahwa organisasi memiliki rencana untuk membangun zona industri di negara-negara anggota D-8.
"Saya berharap ide ini akan mendapatkan dukungan dari negara-negara anggota dan semoga kita dapat segera membangun zona industri khusus di antara negara-negara anggota," katanya.
Hari ini, dua dari anggota D-8 - Turki dan Indonesia - berada di antara kelompok 20 ekonomi terbesar dunia.
Soal perdagangan mata uang lokal di D-8, Shaari mengatakan "Saya tidak bisa mengatakan banyak tentang hal itu karena masih dalam proses diskusi dan negosiasi dengan pihak berwenang yang relevan."
Organisasi sedang dalam pembicaraan dengan Bank Sentral Turki mengenai masalah ini, tambahnya.
"Kami mendapat kabar yang sangat bagus dari bank untuk mendirikan lembaga kliring di mana organisasi akan menggunakan mata uang lokal," kata Shaari.
Para pihak akan membahas masalah ini pada sesi ke-41 pertemuan komisi dan dewan menteri luar negeri di Turki pada November mendatang, tambahnya.
"Kami akan melihat bagaimana kami bisa mengembangkannya lebih jauh. Semoga sesuatu yang baik akan dihasilkan dari rencana ini ini."