Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
07 Februari 2020•Update: 10 Februari 2020
Emre Aytekin
ANKARA
Dokter Li Wenliang, yang pertama kali memperingatkan bahaya virus korona jenis baru, meninggal dunia pada Kamis di sebuah rumah sakit di Wuhan, China, setelah terinfeksi virus tersebut.
Menurut sumber lokal, Li mengirim pesan kepada koleganya di kelompok alumni sekolah kedokteran pada Desember tahun lalu, memperingatkan bahwa tujuh orang telah dikarantina di Rumah Sakit Umum Wuhan dengan penyakit pernapasan yang mirip dengan virus korona SARS.
Namun, polisi di Wuhan memaksanya untuk menandatangani surat yang mengakui bahwa dia membuat komentar palsu.
Pada 12 Januari, Li dirawat di rumah sakit setelah tertular virus dari salah satu pasiennya dan dipastikan terinfeksi virus korona pada 1 Februari.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyampaikan belasungkawa melalui Twitter.
“Kami sangat sedih dengan meninggalnya Dr. Li Wenliang. Kita semua perlu memberi penghormatan pada jasa yang dia lakukan terkait virus korona,” tulis WHO.
Dalam sebuah pernyataan, komisi itu mengatakan 28.018 kasus yang dikonfirmasi telah dilaporkan sejauh ini dan 73 orang telah meninggal dalam 24 jam terakhir.
Jumlah korban tewas akibat wabah virus korona di China hingga Jumat sudah mencapai 636 orang.
Komisi Kesehatan Nasional (NHC) mengatakan bahwa sejauh ini, ada 31.161 kasus dikonfirmasi dan 73 orang meninggal dunia dalam 24 jam terakhir
NHC menyebut pasien yang menjalani perawatan intensif medis berjumlah 186.045, sedangkan pasien yang terinfeksi mencapai 26.762 orang.
It has raised alarm worldwide.
Selain China, virus mematikan itu telah menyebar ke lebih dari 20 negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Singapura, Prancis, Rusia, Spanyol, dan India.
Sejumlah negara juga sudah mengevakuasi warganya dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, di mana virus itu pertama kali diidentifikasi.
Bulan lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan wabah virus korona sebagai darurat kesehatan global.