Mohamed Fahd
05 Juni 2018•Update: 06 Juni 2018
Mohamed Fahd
DOHA, Qatar
Pemerintah Kota Misurata dan Tawergha di Libya telah menandatangani kesepakatan damai untuk mengakhiri perseteruan yang telah berlangsung selama tujuh tahun.
Pada Minggu malam, pejabat dari dua kota itu menandatangani perjanjian yang mencakup repatriasi warga Tawergha yang diusir paksa dari kota pada tahun 2011.
Setelah pemberontakan yang didukung NATO berakhir dengan kematian pemimpin Libya Muammar Gaddafi pada 2011, ribuan warga Tawergha diusir paksa karena dituduh sebagai simpatisan pro-Gaddafi.
Selama tujuh tahun terakhir, warga Tawergha - yang terletak kira-kira 35 kilometer di sebelah timur Misurata - tinggal di kamp-kamp pengungsian. Selama itu pula, representatif sipil dan militer dari Misurata yang anti rezim Gaddafi menentang repatriasi warga ke Tawergha.
Meskipun tidak ada data resmi, namun sumber tidak resmi mengungkapkan bahwa jumlah penduduk Tawergha yang telantar mencapai sekitar 40.000 jiwa.
Pada Senin, Qatar menyambut baik rekonsiliasi antara kedua kota tersebut.
"Qatar berharap ini akan menjadi langkah mula-mula untuk membangun kembali ketertiban dan stabilitas antara penduduk di dua kota dan membangun kembali [aturan] hukum dan memulihkan kepercayaan di lembaga-lembaga yang ada," kata Kementerian Luar Negeri Qatar dalam sebuah pernyataan.