Muhammad Abdullah Azzam
20 Juni 2019•Update: 20 Juni 2019
Çiğdem Alyanak, Hanife Sevinç, Berk Özkan
ISTANBUL
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengungkapkan dalam pidatonya di hadapan para perwakilan media asing di Turki di Istana Dolmabahce bahwa dirinya percaya PBB akan menyelidiki kematian Mohamad Morsi yang mencurigakan serta menuntut mereka yang bertanggung jawab.
"Kami tidak akan pernah membiarkan tragedi Morsi dilupakan seperti kami tak rela terhadap pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi," ujar Presiden Erdogan.
Presiden Erdogan mengatakan negaranya akan menggunakan semua sarana untuk menuntut kasus kematian Morsi sesuai hukum internasional.
"Kami pasti akan membawa kasus kematian Morsi yang mencurigakan itu ke dalam agenda PBB," kata Erdogan.
Presiden Erdogan mengatakan, mereka yang mengajari kami tentang hak, hukum, dan kebebasan kini membisu terhadap kematian presiden yang terpilih dengan 52 persen suara di pengadilan.
Presiden Erdogan pada sebuah acara peresmian di Istanbul kemarin mengungkapkan bahwa Morsi tidak mati secara alami, melainkan ia dibunuh.
Morsi meninggal pada hari Senin setelah jatuh pingsan selama persidangan atas tuduhan "spionase". Aktivis dan keluarganya telah lama mengungkapkan bahwa Morsi tak mendapatkan perawatan untuk masalah kesehatannya termasuk diabetes.
“Mereka (pengkudeta) tidak memberikan tubuh Morsi kepada keluarganya. Mereka bahkan takut pada jasadnya,” kata Erdogan.
“Morsi mewasiatkan ingin dimakamkan di desanya. Namun, rezim Mesir menguburkannya di tempat yang lain,” lanjut Presiden Turki.
Erdogan mengatakan pihaknya akan menuntut keadilan atas kematian mendadak dan tidak dapat dijelaskan itu.
"Turki akan melakukan apa pun untuk menuntut [rezim] Mesir di pengadilan internasional," ujar Erdogan sambil mendesak Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk mengambil tindakan.
"Kami juga akan mengangkat masalah ini pada pertemuan G20 di Osaka," tambah dia.
Dalam pertemuan dengan jurnalis asing di Istanbul, Erdogan juga mengatakan bahwa pihaknya tidak pernah keberatan dengan pengawasan terhadap para politisi oleh pers atas nama rakyat selama mereka mengawasi untuk kepentingan bangsa.
Morsi, pemimpin Ikhwanul Muslimin Mesir, memenangkan pemilihan presiden demokratis pertama negara itu pada 2012.
Namun, setelah hanya satu tahun menjabat, dia digulingkan dan dipenjara dalam kudeta militer berdarah yang dipimpin oleh menteri pertahanan Mesir saat itu dan presiden saat ini Abdel Fattah al-Sisi.
Dia meninggal dunia pada Senin di pengadilan saat tengah menjalani persidangan atas sejumlah tuntutan hukum, yang menurut dia, sejumlah kelompok hak asasi manusia dan pengamat independen, bermotivasi politis.