Dilara Hamit, Dilan Pamuk
26 Agustus 2021•Update: 26 Agustus 2021
ANKARA
Turki telah berubah dari negara yang hanya berjuang untuk eksistensi di dalam perbatasannya lalu menjadi negara yang suaranya dipertimbangkan pada setiap masalah kritis di kawasan dan di seluruh dunia, kata presiden Turki pada Rabu.
Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan hal itu dalam sebuah upacara di provinsi Bitlis, saat Turki memperingati ulang tahun ke-950 dimulainya Pertempuran Malazgirt dan berikutnya diikuti masuknya bangsa Turki ke Anatolia.
"Kami telah berjuang dengan sekuat tenaga untuk membawa negara kami ke tingkat demokrasi dan pembangunan yang layak sesuai dengan tujuan 2023 kami," kata Erdogan.
Presiden Turki meminta generasi muda untuk bekerja agar menempatkan Turki di antara negara-negara paling kuat di dunia dalam segala hal.
“Hanya sedikit waktu tersisa untuk masa depan yang melambangkan kepercayaan, stabilitas, kemakmuran, keadilan, hati nurani, moralitas yang telah kita bangun bersama generasi muda kami,” tutur dia.
"Mulai sekarang, kami tidak akan membiarkan siapa pun atau segmen mana pun merugikan negara kami, generasi muda kami," tegas dia.
Pertempuran Malazgirt
Penguasaan Turki atas Anatolia dimulai dengan Pertempuran Malazgirt, yang juga dikenal sebagai Pertempuran Manzikert, pada 26 Agustus 1071, di mana pasukan Seljuk Turki yang dipimpin oleh Sultan Alparslan mengalahkan tentara Bizantium yang jumlahnya jauh lebih besar.
Kemenangan Turki atas pertempuran tersebut mempercepat pelemahan Kekaisaran Bizantium, dan menyebabkan lebih banyak orang Turki menetap di wilayah tersebut, membuka jalan bagi pendirian Kekaisaran Ottoman dan Republik Turki modern selanjutnya.
Pendudukan asing mendorong Perang Kemerdekaan Turki pada 1919, di mana pasukan Turki – yang dipimpin oleh Mustafa Kemal – akhirnya mengusir penjajah dari Anatolia.
Pada akhir 1922, semua pasukan asing telah meninggalkan wilayah tersebut, yang menjadi bagian dari Republik Turki setahun kemudian.