Muhammad Abdullah Azzam
18 Februari 2021•Update: 18 Februari 2021
Havva Kara Aydin
ANKARA
Turki "memusnahkan" lebih dari 12.900 teroris di dalam dan luar negeri, kata presiden negara itu pada Rabu.
"Sejak Juli 2015 lebih dari 12.900 teroris, termasuk 6.000 di dalam negeri dan 6.900 di luar negeri, telah dimusnahkan," kata Presiden Recep Tayyip Erdogan usai memimpin rapat kabinet di kompleks kepresidenan.
"Dalam operasi ini, hampir 1.300 teroris terluka, sementara lebih dari 1.300 teroris ditangkap hidup-hidup," kata Erdogan, sambil menambahkan bahwa setidaknya 2.243 teroris menyerah kepada pasukan keamanan Turki.
"Jadi, jumlah keseluruhan teroris yang dinetralkan mencapai 17.750," ujar dia, mengatakan Turki, selama lima tahun terakhir, telah melumpuhkan banyak teroris senior PKK selama bertahun-tahun.
Erdogan mengatakan Turki sudah memerangi terorisme selama 40 tahun dan melakukan segala upaya untuk memberantasnya.
Kelompok teroris, yang telah menjadi pion beberapa negara di kawasan dan kekuatan global, telah diaktifkan kembali dengan banyak sarana sejak 2013, ungkap Erdogan, seraya menambahkan bahwa Turki melakukan operasi anti-teror secara aktif untuk memberantas kelompok teror tersebut.
Berbicara soal kudeta yang dikalahkan pada 15 Juli 2016 di negara itu, presiden Turki mengatakan bahwa negaranya telah memberikan pelajaran yang bersejarah kepada mereka yang mencoba membuat Turki bertekuk lutut dengan menggunakan setiap metode dari kudeta hingga teror.
Mengingat sedikitnya 251 orang gugur pada malam 15 Juli 2016, sementara 2.734 orang lainnya terluka, Erdogan mengatakan Turki melakukan sejumlah operasi besar untuk mendobrak koridor teror yang dibuat di sepanjang perbatasan selatan negara itu.
Dia mengatakan Turki tidak pernah menumpahkan darah orang yang tidak bersalah dan tidak pula menjajah satu geografi atau masyarakat di masa lalu.
Erdogan mengatakan, sejak Juli 2015, jumlah pasukan keamanan yang gugur dalam operasi yang dilakukan di dalam dan di luar Turki mencapai 1.259 orang, di antaranya 401 tentara, 443 personel gendarmerie, 299 petugas polisi, dan 116 petugas keamanan.
Dalam lebih dari 30 tahun kampanye terornya melawan Turki, PKK - yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS, dan UE - bertanggung jawab atas kematian 40.000 orang, termasuk wanita, anak-anak, dan bayi.
FETO dan pemimpinnya yang berbasis di Amerika Serikat (AS), Fetullah Gulen, merencakan kudeta yang dikalahkan pada 15 Juli 2016, di mana 251 orang tewas dan hampir 2.200 lainnya terluka.