Muhammad Abdullah Azzam
15 November 2018•Update: 15 November 2018
Gamze Türkoğlu Oğuz
ANKARA
Gedung Putih diklaim membantu menutupi kasus pembunuhan yang menimpa wartawan Arab Saudi, Jamal Khashoggi.
Mantan karyawan Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA), Bob Baer, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan reporter CNN Jake Tapper, bahwa AS sengaja bungkam terhadap kasus pembunuhan Khashoggi dan selalu terlihat seperti mengabaikan apa yang terjadi di Arab Saudi.
Mantan petugas intelijen AS untuk wilayah Timur Tengah Baer mengatakan, Arab Saudi hari ini dipimpin oleh Putra Mahkota Muhammed bin Salman yang dinilainya sebagai seorang "diktator". Semua kontrol satuan intelijen dan kendali kepemerintahan Arab Saudi ada di tangan pangeran tersebut.
Baer mengungkapkan, sebelumnya Arab Saudi belum pernah melakukan "operasi pengecut" seperti itu. Terlebih dari itu, menurutnya tak ada orang lain di negara itu yang punya wewenangan untuk memerintahkan operasi semacam itu selain pangeran.
Kemungkinan seratus persen Muhammed bin Selman memberikan instruksi pembunuhan itu, ucap Baer.
Bob Baer menyebut Gedung Putih dalam hal ini belum dapat menemukan jalan keluar. Arab Saudi bagai gunung berapi, sebetulnya AS kini mencoba menggantikan Putra Mahkota.
“Namun, tidak ada pemain lain (di Arab Saudi) yang berada di pihak kita. Jadi kita tak tahu apa yang harus dilakukan, kita punya psikopat yang mengontrol negara itu dan duduk di Riyadh,” lanjut Baer.
Putra mahkota yang sebelumnya pernah menjadi pejabat intelijen itu, tak lama usai dilantik, Bin Salman memerintahkan penangkapan terhadap lebih dari 200 orang, sebagian di antaranya adalah anggota kerajaan dan pengusaha.
"Sebelumnya, tak ada pangeran Saudi yang melakukan seperti itu dalam sejarah. Menurut pandangan saya, yang mengkhawatirkan Gedung Putih adalah negara ini (sewaktu-waktu) bisa meledak," tukas Baer.
Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih John Bolton mengatakan bahwa rekaman yang diberikan Turki terkait pembunuhan jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi, tak menunjukkan bahwa Putra Mahkota Saudi Muhammed bin Salman mendalangi kejadian tersebut.
Dalam pernyataan yang dilakukan pada 10 November lalu, Presiden Recep Tayyip Erdogan mengungkapkan bahwa Turki telah memperdengarkan rekaman-rekaman dan percakapan telepon terkait pembunuhan Khashoggi kepada Arab Saudi, Amerika Serikat, Jerman, Prancis dan Inggris.
Harian The New York Times (NYT) membeberkan sebuah percakapan milik salah satu dari 15 orang tim intelejen yang menjadi tersangka pembunuhan Khashoggi.
“Katakan kepada bos Anda, orang-orang itu telah menyelesaikan pekerjaan mereka," ucap seorang dalam rekaman itu usai kejadian pembunuhan Khashoggi.
Dalam artikel itu, New York Times mengemukakan bahwa bos yang dimaksud dalam rekaman sambungan telepon itu adalah Putra Mahkota Muhammed bin Salman.