Rıskı Ramadhan
26 April 2018•Update: 26 April 2018
Mohamed Majid
GAZA
Gerakan perlawanan Palestina Hamas pada Rabu meminta pihak-pihak yang bertikai di Suriah untuk tidak melibatkan kamp pengungsi Palestina dalam konflik di negara tersebut.
“Hamas menyerukan pihak-pihak yang bertikai di Suriah untuk tidak melibatkan orang-orang Palestina,” kata juru bicara Hamas Abdel Latif Al-Kanou dalam sebuah pernyataan yang dirilis terkait serangan pasukan rezim di Suriah terhadap wilayah Yarmouk, daerah pengungsi Palestina di Suriah.
"Penderitaan orang Palestina harus diakhiri, karena mereka adalah pengungsi. Yang mereka harapkan dan nantikan adalah kembali ke rumah mereka, kota-kota dan desa-desa di mana mereka telah terusir akibat pendudukan Israel, " kata dia.
Sekitar 20 warga sipil tewas dalam serangan udara pasukan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad di distrik Kamp Yarmouk, Damaskus selama seminggu terakhir, menurut sumber-sumber lokal.
Serangan-serangan itu terjadi setelah rezim Assad dan Daesh gagal mencapai kesepakatan untuk mengevakuasi militan kelompok teroris dari Kamp Yarmouk dan sekitarnya.
Kelompok teroris Daesh menguasai sebagian besar wilayah kamp, yang mayoritas penduduknya adalah pengungsi Palestina.
-- Warga sipil di Kamp Yarmouk hidup dalam pengepungan
Kamp Yarmouk adalah sebuah permukiman dengan luas 16 kilometer persegi dan berjarak 8 kilometer dari selatan Damaskus. Sebagian besar penduduknya adalah pengungsi Palestina.
Organisasi teroris Daesh menguasai area seluas 8 kilometer persegi di bagian barat Yarmouk, sementara Tentara Pembebasan Suriah (FSA) menguasai area seluas 7 kilometer persegi di bagian timur kawasan tersebut.
Sedangkan areal seluas 1 kilometer persegi di utara Kamp Yarmouk dikendalikan oleh kelompok bersenjata anti-rezim, Hayat Tahrir al-Sham.
Kawasan yang dikuasai Daesh di Yarmouk, yang merupakan rumah bagi 2.500 keluarga yang sebagian besarnya adalah pengungsi Palestina itu telah dikepung oleh rezim Assad dan kelompok dukungan Iran selama sekitar lima tahun terakhir.
Sementara itu, sekitar 100 ribu warga sipil yang tinggal di daerah yang dikuasai FSA juga berada dalam pengepungan.