Rhany Chairunissa Rufinaldo
22 April 2020•Update: 22 April 2020
Burak Bir
ANKARA
Hari Bumi ke-50 diperingati di seluruh dunia secara daring pada Rabu karena wabah virus korona.
Hari itu bertepatan dengan penandatanganan pakta iklim Perjanjian Paris pada 2016 di PBB.
"Covid-19 telah mengingatkan kita semua betapa rapuhnya dunia kita terhadap guncangan yang tiba-tiba. Ini adalah gladi resik bagi guncangan yang bahkan lebih besar yang akan datang jika kita gagal mengatasi perubahan iklim," kata Nick Nuttall, direktur komunikasi strategis di Earth Day Network, kepada Anadolu Agency.
Nuttall, yang juga wakil juru bicara Hari Bumi 2020, mengatakan bahwa alih-alih hanya berfokus pada kelompok hijau, hari itu menjangkau segmen masyarakat yang berbeda, termasuk kelompok kemiskinan, guru, universitas dan pemimpin agama, untuk meningkatkan kesadaran tentang planet yang membedakannya dari kampanye atau jaringan lain.
"Memang, jika dunia dan umat manusia akan menyelesaikan tantangan lingkungan dan krisis yang terjadi seperti hilangnya spesies dan perubahan iklim, kita perlu menyatukan massa kritis dari masyarakat di balik visi penting ini," tambah dia.
Asal mula Hari Bumi
Kembali ke tahun 70-an, kata Nuttall, peringatan hari itu dimulai dari Amerika Serikat ketika jutaan orang khawatir tentang perang di Vietnam, senjata nuklir, hak-hak sipil dan lingkungan.
Meskipun pada saat itu perubahan iklim tidak mengkhawatirkan seperti saat ini, dia mengatakan bahwa pestisida yang merusak satwa liar dan asap beracun dari industri yang tidak terkendali, pembangkit listrik dan semakin banyak mobil adalah masalah yang menjadi perhatian masyarakat.
"Pada hari itu 50 tahun yang lalu, lebih dari 20 juta anak muda Amerika keluar dan mengatakan sudah cukup dan saat itu Presiden Nixon, bukan pencinta lingkungan alami, melihat bahwa dia perlu bertindak karena lebih dari 20 juta anak muda Amerika ini akan menjadi pemilih," ujar Nuttall.
Mengacu pada pembentukan Badan Perlindungan Lingkungan (EPA), udara bersih dan tindakan air bersih serta Program Lingkungan PBB, dia mengatakan ini adalah hasil positif dari tindakan pertama pada 1970.
Mengatakan bahwa meskipun telah berkembang dari hari nasional ke hari internasional, Hari Bumi juga telah membangun generasi yang sadar lingkungan.
"Saya pikir hari-hari terbaiknya bukan di belakang tetapi di depan karena sementara banyak yang telah dicapai, dunia perlu bergerak dari perubahan inkremental ke perubahan eksponensial dan dengan kecepatan dan skala," tambah dia.
Tema aksi iklim
Menyinggung soal tema tahun ini, dia mengatakan bahwa aksi iklim harus dimulai hari ini sebelum terlambat untuk mengambil tindakan terhadap perubahan iklim.
"Perubahan iklim telah lama dilihat sebagai masalah masa depan, tetapi kita dapat melihat peningkatan dalam peristiwa cuaca ekstrem, hilangnya es dengan cepat dari Kutub Utara dan puncak gunung," tutur dia, seraya menambahkan bahwa dunia gagal mewujudkan abad rendah karbon.
Nuttall menyambut baik pergeseran ke sumber daya energi terbarukan, tetapi mengatakan ada kebutuhan untuk menghilangkan karbon bangunan dan membuat pertanian berkelanjutan.
"Untuk menghindari perubahan iklim yang berbahaya, dunia perlu menghabiskan sekitar 1-2 persen dari PDB setiap tahun ... Kita harus belajar bahwa lebih baik untuk mencegah krisis global dengan menginvestasikan jumlah sedang sekarang, daripada menghabiskan triliunan dolar untuk menghadapinya saat ia datang," lanjut dia.
Bersamaan dengan konferensi iklim Hari Bumi yang akan berlangsung hingga 25 April, akan ada program siaran langsung pada 22 April di situs web earthday.org.
Meskipun pertemuan massal dan demonstrasi dibatalkan karena pandemi Covid-19, aksi bela lingkungan dan protes iklim terus berlangsung secara digital di seluruh dunia.