Rhany Chairunissa Rufinaldo
09 Januari 2019•Update: 09 Januari 2019
Diyar Guldogan
ANKARA
Dalam upayanya mengakhiri keterlibatan dengan teroris PKK di Suriah, AS mengalami masalah dalam penarikan pasukannya, kata menteri luar negeri Turki pada Rabu.
"Kami melihat bahwa AS memiliki beberapa kesulitan saat menarik pasukan dari Suriah," Mevlut Cavusoglu mengatakan kepada Komite Urusan Luar Negeri parlemen.
"Setelah begitu terikat dan terlibat dengan organisasi teroris, tidak mudah untuk meninggalkan mereka," tambahnya, merujuk pada teroris PKK.
Ankara telah lama mengkritik AS yang bekerja sama dengan teroris PKK untuk memerangi Daesh di Suriah, mengatakan bahwa menggunakan satu kelompok teror untuk melawan kelompok teror yang lain adalah langkah yang tidak masuk akal.
Dalam kampanye teror selama 30 tahun, PKK telah merenggut sekitar 40.000 jiwa, termasuk wanita dan anak-anak.
Sementara PKK/PYD adalah cabangnya di Suriah.
Cavusoglu menegaskan bahwa Turki telah berulang kali menolak klaim AS bahwa Washington tidak akan menarik tentaranya dari Suriah tanpa jaminan dari Ankara bahwa mereka tidak akan menyerang Kurdi.
Dia menekankan bahwa menyamakan Kurdi dengan teroris PKK adalah pemikiran yang aneh.
Cavusoglu menambahkan bahwa di bawah proses Astana, Turki telah berkoordinasi dengan Rusia dan Iran mengenai perdamaian Suriah.
"Sejauh ini tidak ada masalah yang dihadapi dalam implementasi kesepakatan Idlib dan Turki tidak ingin menghadapi masalah ke depannya," tambahnya.
Soal perang saudara dan krisis kemanusiaan di Yaman, Cavusoglu menegaskan bahwa menemukan solusi untuk masalah Yaman akan menjadi salah satu prioritas Turki pada 2019.
Sementara mengenai masalah Siprus, dia mengatakan pemilihan Parlemen Eropa yang ditetapkan pada Mei tahun ini mencegah dimulainya negosiasi soal Siprus.