08 Agustus 2017•Update: 09 Agustus 2017
Shenny Fierdha
JAKARTA
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia sedang mengupayakan repatriasi 100 warga negara Indonesia (WNI) yang saat ini masih bertahan di Yaman.
“Kami sudah menghimbau sejak 2015 [pada WNI] di Yaman untuk evakuasi. Tapi sekarang sudah bukan evakuasi lagi, melainkan repatriasi saja,” kata Lalu Muhammad Iqbal, Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (BHI), saat dihubungi Anadolu Agency via sambungan telepon.
Menurut Lalu, pihak Kemlu sudah mengevakuasi ribuan WNI yang berada di Yaman sejak 2015 sampai akhir 2016 menyusul konflik antara militan Al-Houthi dengan pemerintah Yaman.
Menurut data dari pihak Kemlu, sebelum terjadinya konflik, jumlah WNI di Yaman sebanyak 4.159 orang, dimana mayoritasnya adalah mahasiswa dan pelajar (2.626 orang), pekerja (1.488 orang), dan 45 orang staf dan keluarga Kedutaan Indonesia.
Hingga saat ini sekitar 100 orang WNI masih di Yaman karena merasa kondisi di daerahnya masih relatif aman dan tidak terhinggapi konflik.
“Itu pilihan mereka secara sadar. Padahal negara sudah hadir dan memberi bantuan tapi mereka menolak,” kata Iqbal.
Walau demikian pihaknya tetap memfasilitasi para WNI yang ingin pulang ke Indonesia akibat memburuknya kondisi di Yaman. Bukan hanya karena konflik tapi juga karena wabah penyakit seperti kolera dan diare serta kelangkaan logistik.
Iqbal menyebutkan bahwa ada juga WNI yang setibanya di tanah air justru ingin kembali lagi ke Yaman karena menurut WNI tersebut kondisi di sana sudah membaik, walau Kemlu merasa situasi Yaman belum kondusif.
Akan tetapi, lanjutnya, Kemlu tidak bisa melarang orang bepergian dan Kemlu pun tidak bertugas untuk mengeluarkan visa.
“Tanggung jawab kami ialah untuk memberikan perlindungan kepada WNI di luar negeri melaui travel advisory. Kita menghimbau mereka untuk tidak ke Yaman, tapi itu tetap hak mereka untuk pergi ke sana,” tutup Iqbal.
Awal bulan Agustus ini, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Yaman memfasilitasi kepulangan 4 orang WNI yang terdiri dari 1 ibu dan 3 anak dari negara tersebut melalui Salalah, Oman, menyusul memburuknya situasi keamanan di sana.