Ahmet Gurhan Kartal
13 April 2018•Update: 14 April 2018
Ahmet Gurhan Kartal
LONDON
Inggris akan melanjutkan kerja sama dengan AS dan Prancis untuk merancang respon terhadap dugaan serangan kimia yang membunuh hampir 80 orang, kata pemerintah Inggris pada Kamis.
Pernyataan itu datang menyusul rapat kabinet yang digelar oleh Perdana Menteri Theresa May untuk membahas masalah respon terhadap rezim Assad, yang diyakini melakukan serangan Sabtu pekan lalu itu.
"Siang ini pada rapat kabinet, semua menerima kabar terbaru terhadap serangan terhadap sipil di Douma, Suriah pada Sabtu," bunyi pernyataan itu.
"Perdana Menteri mengatakan itu adalah aksi yang barbar dan mengejutkan yang membunuh hingga 75 orang, termasuk anak-anak, dengan cara yang keji dan tidak manusiawi," lanjut dia.
Pernyataan itu juga mengatakan anggota Kabinet "setuju bahwa rezim Assad dikenal menggunakan senjata kimia dan sangat mungkin bertanggung jawab untuk serangan Sabtu itu."
"Perdana Menteri mengatakan itu adalah contoh runtuhnya hukum internasional terkait penggunaan senjata kimia, yang mengkhawatirkan kami semua."
Kabinet juga setuju "pengunaan senjata kimia itu harus dihentikan."
Selain itu, Kabinet mengatakan harus mengambil langkah untuk mengurangi penderitaan yang disebabkan oleh rezim Assad.
"Perdana Menteri akan terus bekerja sama dengan rekan-rekannya di AS dan Prancis untuk merancang respon internasional," bunyi kesimpulan pada akhir rapat itu.
- Diplomasi lewat telepon
Pemimpin-pemimpin Inggris, AS, dan Prancis setuju bahwa komunitas internasional harus "merespon guna menegakkan larangan internasional terkait penggunaan senjata kimia," kata pemerintah Inggris pekan ini.
Persetujuan itu muncul setelah sejumlah perbincangan telepon antara Perdana Menteri Theresa May, Presiden AS Donald Trump, dan Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Pinggiran Damaskus di Douma dilanda serangan kimia pada Sabtu, yang menyebabkan sedikitnya 78 warga sipil tewas, menurut White Helmets.
Badan pertahanan sipil setempat menyalahkan pasukan rezim Bashar al-Assad atas serangan itu.
Serangan dengan senjata kimia itu telah mengundang kecaman dari seluruh dunia.
Pada 24 Februari, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengadopsi Resolusi 2401 yang menyerukan gencatan senjata selama sebulan di Suriah, khususnya di Ghouta Timur, untuk memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan.
Namun meski sudah ada resolusi tersebut, rezim dan sekutu-sekutunya pada awal bulan ini tetap meluncurkan serangan darat besar-besaran -- didukung oleh kekuatan udara Rusia -- yang bertujuan merebut wilayah yang dikuasai oposisi di Ghouta Timur.