İqbal Musyaffa
11 Juli 2018•Update: 12 Juli 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Investor asing asal Perancis ingin membawa teknologi mobil terbang ke pasar Indonesia. Teknologi tersebut dianggap tepat untuk membantu menyelesaikan masalah transportasi dan kemacetan di Jakarta.
Pendiri dan CEO NSCS, Nathanael Noiraud, mengatakan kepada Anadolu Agency pada Rabu bahwa perusahaannya telah mulai melakukan penjajakan kepada perusahaan di Indonesia yang tertarik pada teknologi terobosan ini. NSCS merupakan perusahaan Perancis yang berbasis di Malaysia.
Dia mengatakan, di beberapa negara berkembang di Asia Pasifik, kurangnya investasi dalam infrastruktur transportasi menjadi kendala dalam mobilitas. Nathanael menambahkan, Jakarta telah dinobatkan sebagai kota dengan kemacetan lalu lintas terburuk di dunia, menurut sebuah studi baru oleh Castrol.
“Orang-orang Jakarta menghabiskan waktu lebih lama di lalu lintas dibandingkan dengan warga kota-kota besar Asia lainnya,” imbuh dia.
Nathanael mengatakan, perusahaannya telah bermitra dengan perusahaan pengembang mobil terbang Electric Visionary Aircrafts (EVA) pimpinan Oliver Le Lann yang merupakan mantan Eksekutif Tesla.
EVA dikembangkan di Toulouse, Prancis, dan akan menjadi kendaraan terbang otonom pertama di dunia. “Ini fitur teknologi yang paling canggih dalam algoritma penerbangan, struktur pesawat, baterai dan motor dikembangkan bersama dengan para pemimpin industri seperti Safran, Bosch, dan Siemens,” klaim dia.
Mobil terbang EVA, menurut Nathanael, telah dirancang dari awal untuk digunakan di lingkungan perkotaan karena memiliki kemampuan lepas landas dan pendaratan vertikal yang unik. Kendaraan ini dapat mendarat di satu tempat parkir dan tidak memerlukan ruang tanah untuk lepas landas.
“Meskipun EVA sedang dikembangkan di Eropa, tetapi sangat cocok untuk pasar Asia Tenggara,” jelas Nathanael.
Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa banyak perusahaan seperti Grab sedang mengeksplorasi cara-cara untuk meluncurkan layanan sewa helikopter. Sementara perusahaan lainnya seperti PT Whitesky telah meluncurkan penyewaan helikopter yang dapat mengurangi waktu tempuh dari Jakarta ke Bandung.
“Meskipun helikopter secara teoritis dapat menjadi solusi ideal, tapi total investasi yang diperlukan sangat mahal,” kata Nathanael.
Harga satuan helikopter yang paling umum digunakan untuk transportasi umum sekitar USD1,6 juta ditambah biaya bahan bakar dan pelatihan pilot.
“Helikopter juga perlu dioperasikan melalui infrastruktur berbiaya tinggi, sering terletak di luar kota,” tambah dia.
Sementara itu, mobil terbang EVA menurut dia memiliki harga unit yang lebih rendah dengan harga sekitar USD300 ribu dan biaya pemeliharaan yang lebih rendah, sehingga dia menyakini akan dapat menarik minat pasar Indonesia.