Rhany Chairunissa Rufinaldo
10 Juli 2019•Update: 11 Juli 2019
Ayhan Simsek
BERLIN
Kanselir Jerman Angela Merkel pada Selasa menyerukan gencatan senjata tanpa syarat dalam konflik Libya.
Berbicara kepada para duta besar asing yang bertugas di Jerman pada acara tahunan yang diadakan di kastil Meseberg, Berlin, Merkel menyatakan keprihatinan besar dengan berlanjutnya eskalasi di Libya.
"Jerman mendukung upaya PBB untuk gencatan senjata tanpa syarat," tegas dia, mendesak semua pihak yang berkonflik untuk kembali ke proses politik.
Merkel mengatakan serangan udara di pusat penahanan migran di pinggiran Tripoli pekan lalu, yang menewaskan sedikitnya 44 orang dan melukai 130 lainnya, menunjukkan kebutuhan mendesak terhadap gencatan senjata.
Pemerintah Kesepakatan Nasional Libya (GNA) menyalahkan serangan udara terhadap pasukan komandan Khalifa Haftar, yang didukung oleh Uni Emirat Arab dan Mesir.
Merkel mengkritik peran kekuatan asing dalam konflik Libya dan mendesak semua negara untuk menerapkan embargo senjata PBB terhadap negara itu.
"Embargo senjata harus diterapkan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut," ujar dia.
Pada April, Komandan Khalifa Haftar melancarkan kampanye besar untuk mengepung Tripoli, tempat Pemerintah Pusat Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui PBB berkantor pusat di Gavi.
Setelah lebih dari sebulan bertempur di pinggiran Tripoli, kampanye Haftar gagal mencapai misi utamanya.
Namun demikian, pasukannya tetap dikerahkan di beberapa daerah di sekitar ibu kota.
Libya masih dilanda krisis kekerasan sejak 2011, ketika pemberontakan yang didukung NATO menyebabkan penggulingan dan terbunuhnya Presiden Muammar Khaddafi setelah empat dekade berkuasa.
Sejak itu, perpecahan politik Libya menghasilkan dua kursi kekuasaan saingan - satu di Al-Bayda dan satu lagi di Tripoli - bersama dengan sejumlah kelompok milisi bersenjata berat.