Firdevs Bulut
ANKARA
Jurnalis foto perang terkenal, Coskun Aral, muncul dalam pameran foto online untuk memperingati Hari Pengungsi Sedunia pada Senin.
Proyek Exodus - Deja Vu telah mendapatkan pengakuan internasional sejak pertama kali diadakan pada 2016 dan menampilkan karya-karya fotografer terkenal dan jurnalis foto seperti Coskun Aral, Guillermo Arias, Yalda Moayeridan Sergey Ponomarev.
Acara "Exodus - Deja vu" telah mendapatkan pengakuan internasional sejak pertama kali diadakan pada 2016 dan menampilkan karya-karya fotografer terkenal dan jurnalis foto seperti Coskun Aral, Guillermo Arias, Yalda Moayeri dan Sergey Ponomarev.
Anadolu Agency adalah mitra komunikasi global untuk acara tersebut, bersama dengan organisasi ternama lainnya termasuk UNHCR dan Amnesty International.
Tahun ini, karena pandemi Covid-19, pameran diadakan secara daing dan dibuka untuk umum pada Hari Pengungsi Sedunia, 20 Juni.
Para fotografer diwawancarai secara online, berbicara tentang pekerjaan utama mereka dalam proyek tersebut dan pentingnya Hari Pengungsi Sedunia bagi jurnalis foto.
Coskun Aral, koresponden perang Turki, jurnalis foto, jurnalis televisi dan produser film dokumenter, juga ikut ambil bagian dalam proyek tersebut dan diwawancarai secara daring dalam kemitraan Anadolu Agency dan Exodus - Deja Vu.
Dia menjadi bagian dari Exodus Deja Vu setelah terlibat dalam proyek foto para pengungsi di Swedia.
30 tahun berlalu, penderitaan pengungsi tidak berubah
Foto-foto Coskun Aral yang memperlihatkan pengungsi sedang melarikan diri dari kebrutalan Saddam Hussein di Irak ke Turki pada 1991 ditampilkan dalam proyek ini.
"Sudah 30 tahun, tetapi penderitaan para pengungsi belum berubah, dalam geografi yang sama. Ada krisis lain di tahun 1970-an di Irak juga. Itulah saat ketika saya memutuskan untuk memotret pengungsi, dan menceritakan kisah mereka kepada dunia,” ujar dia.
Aral pernah mengabadikan peristiwa-peristiwa penting di Afrika, Pakistan, India, serta banyak negara lain dan menyaksikan penderitaan yang sama.
“Pengungsi berjuang untuk bertahan hidup dan saat ini Covid-19 bukan satu-satunya masalah mereka. Kita harus memikirkan hal itu dan mengerahkan semua upaya untuk memperbaiki situasi ini,” tutur sang jurnalis foto.
"Kita harus memperbanyak proyek dan acara semacam ini, kita perlu melakukan ini lebih banyak. Tidak hanya jurnalis foto, tetapi semua orang dengan hati nurani perlu mengalihkan perhatian pada para pengungsi," tambah dia.
Siapa pun bisa menjadi pengungsi dalam semalam
Aral mengatakan pemerintah perlu memimpin orang dan organisasi untuk meningkatkan kesadaran bagi para pengungsi dan orang-orang harus bertindak dengan hati nurani.
"Kesulitan ini bisa terjadi pada siapa pun di dunia. Di Rwanda, saya menyaksikan banyak kebrutalan, kematian ratusan ribu. Ketika kesulitan ini menimpa orang, mereka cenderung kehilangan akal sepenuhnya, dan itu bisa terjadi pada siapa pun,” ungkap dia.
“Tapi kita tidak bisa melakukan ini untuk keuntungan politik atau menciptakan tenaga kerja murah dari para pengungsi, harus dengan motivasi kemanusiaan," lanjut sang fotografer.
Fotografi bisa meningkatkan empati
Menurut Aral, pengungsi telah diasingkan dari negara mereka untuk waktu yang lama dan gambar bisa meningkatkan empati di mata orang yang melihatnya.
"Seorang jurnalis foto pertama-tama harus bertindak sesuai dengan tujuan kemanusiaan. Tapi ya, fotografi bisa meningkatkan empati dan kesadaran dalam pikiran masyarakat tentang pengungsi," imbuh dia.
Sang fotografer senior mencatat bahwa pengarsipan dan dokumentasi sangat penting karena memungkinkan kita untuk melacak sejarah dan melihat masa depan dengan lebih cerah.
Dia mengatakan bahwa trauma yang dia alami di zona perang juga mempengaruhinya secara fisik dan psikologis.
"Saya memiliki keyakinan bahwa kami melakukan sesuatu karena suatu alasan. Kami wajib membaca, bekerja, bertanya, dan itulah yang saya lakukan dengan kamera saya," tambah Aral.
Proyek berlanjut dengan lebih banyak wawancara
Pameran Exodus pertama diadakan pada 2016 di Kuala Lumpur, disusul dengan pertunjukan di Bangkok, Chiang Mai, Ankara dan Istanbul.
Awalnya pameran akan digelar juga di Eropa dan AS, tetapi rencana itu dibatalkan karena pandemi Covid-19.
Fotografer yang berpartisipasi dalam proyek ini akan diwawancarai setiap hari di halaman Instagram Exodus.
Pameran ini dapat dilihat secara online di "www.exodus-dejavu.com".