Rhany Chairunissa Rufinaldo
25 Juni 2020•Update: 26 Juni 2020
Yusuf Ozcan
PARIS
Sebuah majalah Prancis mengungkapkan bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan adalah satu-satunya pemain yang bertindak secara jujur di Libya dan pemerintah Ankara tidak menyembunyikan agenda regionalnya.
Menurut artikel yang diterbitkan Le Canard Enchaine pada Rabu, Presiden Turki adalah satu-satunya yang tidak menyembunyikan tujuan militer, geopolitik dan energinya di Mediterania, Libya dan Siprus.
Artikel itu mengatakan komandan pemberontak Libya Khalifa Haftar telah mempercayai dukungan Rusia, Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi dan Prancis. Namun, pemerintah Libya yang sah berhasil mengalahkan Haftar dengan dukungan Turki.
Selain itu, pemerintah Libya melihat pernyataan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, yang mengatakan bahwa intervensi langsung di Libya adalah suatu kemungkinan, sebagai deklarasi perang dan campur tangan dalam urusan dalam negeri negara itu.
Terlepas dari argumen tak berdasar dari panglima pemberontak Khalifa Haftar dan para pendukungnya, PBB mengakui pemerintah yang dipimpin oleh Fayez al-Sarraj.
Pemerintah meluncurkan Operasi Badai Perdamaian terhadap Haftar pada Maret untuk melawan serangan di ibu kota dan baru-baru ini merebut kembali lokasi-lokasi strategis termasuk Tarhuna, benteng terakhir Haftar di Libya barat.
Pemerintah Libya mengutuk dukungan militer oleh Mesir, Uni Emirat Arab, Prancis dan Rusia atas serangan oleh milisi Haftar di Tripoli yang dimulai pada 4 April 2019.