Rhany Chairunissa Rufinaldo
23 Mei 2019•Update: 23 Mei 2019
Barry Ellsworth
TRENTON, Kanada
Kanada pada Rabu mengumumkan bahwa mereka telah menyewa sebuah perusahaan untuk membawa kembali sampah yang telah membusuk selama enam tahun di dalam 69 kontainer di Filipina.
Menteri Lingkungan Hidup Catherine McKenna mengatakan limbah itu akan dibawa kembali ke Kanada pada akhir Juni.
Pengumuman itu muncul menyusul ancaman dikeluarkan oleh Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada Rabu, yang mengatakan bahwa dia akan mengirim sampah ke Kanada dan membuangnya ke perairan negara itu.
"Jika Kanada tidak mau menerima sampah mereka, kami akan meninggalkannya di perairan teritorial mereka atau 12 mil laut dari garis dasar pantai negara mereka," kata juru bicara kepresidenan Salvador Panelo, pada konferensi pers.
Secara keseluruhan, 103 kontainer dikirimkan oleh sebuah perusahaan swasta Kanada ke Filipina pada 2013 dan 2014.
Sampah tersebut dilabeli sebagai barang daur ulang tetapi pada kenyataannya berisi sampah.
Saat ini, ada 69 kontainer yang tersisa setelah Filipina membuang 34 lainnya.
Filipina telah mendesak Kanada mengambil kembali sampah mereka, tetapi hingga saat ini tidak kunjung dilaksanakan, padahal Perdana Menteri Justin Trudeau telah berjanji akan melakukannya.
Pekan lalu, Duterte memanggil duta besar Filipina dan konsulnya untuk Kanada sebagai bentuk protes, disusul dengan mengeluarkan ancaman.
Tampaknya ancaman itu berhasil karena beberapa jam kemudian, Kanada menanggapinya dengan sebuah pengumuman dari menteri McKenna.
"Kanada menghargai hubungannya yang telah terjalin lama dengan Filipina dan telah bekerja sama dengan pihak berwenang Filipina untuk menemukan solusi yang dapat saling diterima," ujar dia dalam sebuah pernyataan.
McKenna mengatakan sebelum dikembalikan, limbah itu akan diolah secara aman sesuai dengan persyaratan kesehatan dan keselamatan Kanada.
Dia mengatakan sampah yang diolah harus dibuang dari Filipina pada akhir Juni dan Kanada akan menanggung biayanya.