Maria Elisa Hospita
18 Juli 2019•Update: 18 Juli 2019
Mohammed Amin
KHARTOUM
Terinspirasi oleh aksi protes massal terhadap mantan penguasa Sudan, Omar al-Bashir, kelompok seniman grafiti menggunakan dinding-dinding di Kota Khartoum untuk menyalurkan aspirasinya tentang masa depan Sudan yang lebih baik.
Karya grafitinya menyuarakan slogan unjuk rasa "Demi Kebebasan, Keadilan, dan Perdamaian" sebagai bagian dari kampanye yang menuntut pengalihan kekuasaan dari militer ke pemerintahan sipil.
"Kami menganggap diri kami sebagai salah satu penggagas revolusi," ujar Muhanad Khalafallah, seorang seniman grafiti, kepada Anadolu Agency.
Seniman itu juga meyakini bahwa karya mereka membantu menginspirasi dan memobilisasi masyarakat untuk bersatu sampai aspirasi mereka terpenuhi.
Tiga bulan setelah al-Bashir lengser, dewan militer yang berkuasa di Sudan masih menolak tuntutan para demonstran untuk menyerahkan kekuasaan ke pemerintah sipil.
Ketegangan semakin meningkat antara kedua pihak setelah militer membubarkan paksa aksi protes massal di dekat markas militer di Khartoum, yang menyebabkan tewasnya puluhan demonstran.
Suara revolusi
Khalafallah mengungkapkan bahwa para seniman telah melukis semua tembok di sekitar area unjuk rasa dekat markas militer.
"Kami mengecat sebagian besar tembok di sekitar halaman markas militer di Khartoum," ujar dia.
"Kami berencana mengubah area itu menjadi area pameran untuk menunjukkan kehebatan revolusi kami, tetapi sayangnya musuh-musuh revolusi justru dengan sengaja merusak upaya kami," keluh Khalafallah.
Musisi Sudan ternama Mohamed Marzoog mengatakan para musisi juga menyatakan dukungan bagi revolusi Sudan.
"Musik dan lagu adalah suara revolusi. Kami bukan mewakili diri kami sendiri. Ini adalah denyut nadi rakyat dan revolusi,” kata Marzoog kepada Anadolu Agency.
Menurut Marzoog, para musisi mengalami penindasan selama rezim al-Bashir.
"Karena itulah, revolusi ini mendapat dukungan besar dari kalangan seniman,” imbuh dia.
#BlueforSudan
Desainer grafis yang berbasis di Berlin Ahmed Islam Aldin mengatakan bahwa warga Sudan yang tinggal di luar negeri juga aktif terlibat dalam kampanye solidaritas untuk seniman di negara mereka.
"Desainer dan seniman telah mengisi ruang virtual dengan beragam karya seni. Sejumlah karya dipakai sebagai poster selama demonstrasi,"tutur Aldin.
Dia mengatakan beberapa platform daring diluncurkan untuk menggalang dukungan bagi revolusi Sudan.
"Platform [kami] digunakan untuk meluncurkan #AskMeAboutSudan dan #BlueforSudan," ungkap desainer itu, merujuk pada aksi berkabung untuk Mohamed Mattar.
Mattar, seorang insinyur Sudan-Inggris, terbunuh saat aksi protes di Khartoum.
Kematiannya telah mendorong ribuan orang di seluruh dunia untuk mengubah foto profil Instagram mereka dengan warna biru sebagai tanda berkabung.
Pada Januari, sekelompok seniman dan kurator diaspora berencana menggelar pameran di beberapa kota termasuk Berlin, Venesia, Wina, Sydney, dan Paris, untuk meningkatkan kesadaran tentang revolusi Sudan.