Iqbal Musyaffa
19 Mei 2020•Update: 19 Mei 2020
Jakarta
Bank Indonesia menyatakan ketidakpastian pasar keuangan global akibat wabah Covid-19 mulai mereda sehingga mengurangi intensitas aliran modal keluar dari negara-negara berkembang.
Efek lain, menurut BI adalah turunnya tekanan pada nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan aliran masuk modal asing ke dalam negeri kembali membaik mulai April 2020 setelah ketidakpastian pasar keuangan global mereda serta.
Faktor lain yang mendorong hal itu adalah daya saing dan prospek perekonomian Indonesia tetap menjanjikan.
“Investasi portofolio sejak April 2020 hingga 14 Mei 2020 mencatat ‘net inflow’ USD4,1 miliar, setelah pada kuartal pertama 2020 mencatat ‘net outflow’ USD5,7 miliar,” kata Perry dalam konferensi pers virtual, Selasa.
Perry mengatakan nilai tukar rupiah juga menguat seiring dengan meredanya ketidakpastian pasar keuangan global dan terjaganya kepercayaan terhadap kondisi ekonomi Indonesia.
“Setelah menguat pada April 2020, rupiah pada Mei 2020 kembali mengalami apresiasi sampai 18 Mei 2020, rupiah menguat 5,1 persen secara rata-rata,” ujar Perry.
Perry mengatakan rupiah juga menguat 0,17 persen secara point to point dibandingkan dengan level akhir April 2020.
“Namun demikian, rupiah masih mencatat depresiasi sekitar 6,52 persen dibandingkan dengan level akhir 2019 akibat depresiasi yang dalam pada Maret 2020,” lanjut dia.
Pertumbuhan ekonomi turun
Meskipun ketidakpastian di pasar keuangan global mulai mereda, namun Perry mengatakan pandemi Covid-19 menurunkan pertumbuhan ekonomi dunia.
“Sejalan meluasnya pandemi Covid-19 dan disertai berbagai upaya penanggulangan pembatasan aktivitas masyarakat, pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2020 di banyak negara di dunia menurun tajam,” jelas Perry.
Dia mengatakan pertumbuhan ekonomi seperti di China, Eropa, Jepang, Singapura, dan Filipina mengalami kontraksi pada kuartal pertama 2020, sementara pertumbuhan ekonomi AS turun cukup dalam menjadi 0,3 persen.
“Perkembangan April 2020 menunjukkan risiko resesi ekonomi global tetap besar, tercermin pada kontraksi berbagai indikator dini seperti kinerja sektor manufaktur dan jasa serta keyakinan konsumen dan bisnis,” ujar Perry.
Menurut dia, perkembangan ini mengakibatkan volume perdagangan dunia mengalami kontraksi dan diikuti menurunnya harga komoditas dan harga minyak.
“Dengan proyeksi kontraksi ekonomi berlanjut sampai dengan kuartal ketiga 2020, Bank Indonesia memperkirakan ekonomi global 2020 mencatat pertumbuhan negatif 2,2 persen,” ungkap Perry.
Dia menambahkan pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan kembali meningkat pada 2021 menjadi 5,2 persen didorong dampak positif kebijakan yang ditempuh di banyak negara dan faktor ‘base effect’ pertumbuhan ekonomi yang rendah.