Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
07 Februari 2020•Update: 13 Februari 2020
Ali Murat Alhas
ANKARA
Ditengah seruan otoritas kesehatan internasional agar orang-orang yang mengunjungi daerah terdampak virus korona untuk dikarantina selama 14 hari guna mengawasi gejala-gejalanya, seorang pria Turki justru mengisolasi dirinya sendiri.
Hadi Yaman, seorang insinyur mesin yang bekerja di China, memutuskan untuk meninggalkan negara itu pada 28 Januari, di tengah meningkatnya wabah virus dan permintaan keluarganya untuk kembali ke Turki.
Dia kemudian pindah ke vila milik keluarganya di Provinsi Adana dan mengisolasi dirinya dari masyarakat.
“Saya memakai masker dan mendarat di Adana, dimana saya disambut dengan tatapan penasaran. Hal pertama yang saya lakukan adalah memberi masker kepada ayah saya ketika dia menjemput saya,” kata Yaman.
Dia menambahkan bahwa langkah itu didasarkan atas saran pejabat kesehatan China dan Turki.
Pria berusia 32 tahun itu mengatakan dia pergi ke fasilitas kesehatan tak lama setelah itu dan melakukan tes darah serta menjalani pemeriksaan pernapasan.
Kemudian dia pindah ke rumah peristirahatan keluarganya untuk mengisolasi diri dan meminimalisasi risiko menulari orang lain jika dia positif terinfeksi, meskipun bagi dia itu sangat tidak mungkin.
“Saya mengambil langkah ini agar tidak menimbulkan risiko bagi orang yang saya cintai dan, tentu saja, sesama warga negara. Saya akan melakukan hal yang sama bahkan jika hanya ada satu dalam satu miliar kemungkinan," ujar dia.
Yaman mengatakan bahwa masa karantinanya memasuki hari ke-10 dan masih ada empat hari lagi.
Namun, dia mengungkapkan bahwa masa karantina itu bagi dia bukanlah sebuah krisis, tetapi justru menjadi kesempatan untuk merenung karena selama ini dia terlalu sibuk dengan pekerjaan.
“Saya sendirian, jadi saya punya waktu untuk berpikir dan masuk lebih dalam ke pikiran saya. Waktu di China, saya terlalu sibuk dengan pekerjaan. Ini lebih seperti liburan, yang saya sambut dengan senang hati,” canda Yaman.
Sementara para ahli menyerukan orang-orang untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh mereka dalam upaya melawan virus mematikan itu, Yaman dengan senang hati menyambut saran tersebut karena kebun di sekitar vilanya penuh dengan pohon lemon dan jeruk yang merupakan sumber vitamin C.
Di sisi lain, karantina sendiri bukan berarti isolasi dari media sosial, karena dia masih rutin mengecek perkembangan terbaru melalui internet.
Yaman mengatakan dia merasa terganggu dengan beberapa insiden tidak menyenangkan, di mana warga China secara fisik dilecehkan di luar negeri dan berita-berita yang menargetkan negara itu.
"Orang-orang China merupakan bagian yang signifikan dalam industri pariwisata global, dan melecehkan mereka akan menyebabkan resesi di negara-negara tempat insiden yang mengerikan ini terjadi," imbuh dia.
Yaman menyebut bahwa beberapa negara bahkan menggunakan wabah virus korona untuk menyerang ekonomi dan menekan China.
“Hari-hari yang sehat akan kembali lagi, dan kita semua akan berjalan bebas di jalan-jalan China tanpa masker atau apa pun itu. Saya berharap pemulihan yang cepat bagi warga China dan menyampaikan belasungkawa kepada mereka yang kehilangan orang-orang terkasih,” tutur dia.
Yaman menambahkan bahwa para pejabat China memberikan kemudahan besar terkait pemulangan warga Turki pada 1 Februari dan sejauh ini relatif berhasil dalam memerangi wabah.
"Duta Besar Turki untuk Beijing Abdulkadir Emin Onen juga memainkan peran kunci melalui kontak dekat dengan tokoh diplomatik China," pungkas dia.
Sejak akhir Desember 2019, virus korona telah menjadi salah satu agenda global teratas.
Sejauh ini, korban tewas akibat wabah virus korona di China sudah mencapai 638 orang, sementara 31.572 orang dikonfirmasi terinfeksi.
Sejumlah negara juga sudah mengevakuasi warganya dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, di mana virus itu pertama kali diidentifikasi.
Bulan lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan wabah virus korona sebagai darurat kesehatan global.