Rhany Chairunissa Rufinaldo
29 Agustus 2018•Update: 29 Agustus 2018
Umar Farooq
WASHINGTON
Jumlah korban tewas di Puerto Rico akibat badai Maria dari September 2017 hingga Februari 2018 saat ini diperkirakan 2.975, menurut laporan baru yang dirilis pada Selasa.
Laporan yang dibuat oleh Institut Kesehatan Masyarakat Milken, Universitas George Washington, atas permintaan pemerintah Puerto Rico, mendapatkan angka baru dengan membandingkan model populasi dan tren dari 2010 hingga 2017, dan kemudian menciptakan sebuah model selama periode tujuh bulan dan memperkirakan jumlah kematian yang akan terjadi jika badai Maria tidak terjadi.
Mereka membandingkan perkiraan dengan jumlah total kematian selama periode saat badai Maria terjadi.
Penelitian ini menemukan orang yang tinggal di daerah sosial ekonomi rendah dan pria di atas usia 65 tahun memiliki risiko kematian yang lebih besar.
“Hasil penelitian epidemiologi kami menunjukkan bahwa, tragisnya, badai Maria menyebabkan sejumlah besar kematian berlebih di seluruh pulau. Kelompok tertentu - mereka yang berada di daerah berpenghasilan rendah dan orang tua - menghadapi risiko tertinggi,” Carlos Santos-Burgoa, profesor Kesehatan Global di Universitas George Washington, mengatakan dalam sebuah siaran pers.
Peneliti menyimpulkan bahwa 40 persen kotamadya mengalami kematian yang lebih tinggi secara signifikan selama badai Maria dibandingkan dua tahun sebelumnya.
Jumlah perkiraan baru jauh lebih tinggi daripada jumlah resmi yang semula dilaporkan oleh pemerintah, yaitu 64 jiwa, sebelum Gubernur Puerto Rico Ricardo Rossello mengubah jumlah kematian resmi pulau itu untuk mencocokkan angka penelitian tersebut.
Awal bulan ini dalam sebuah laporan yang secara diam-diam dikirim ke Kongres, pemerintah persemakmuran mengatakan ada 1.427 lebih banyak kematian daripada biasanya selama badai, tetapi tidak meningkatkan jumlah korban tewas.
Satu hal yang ditekankan dalam laporan itu adalah masalah sertifikat kematian yang berkontribusi pada angka palsu yang semula dilaporkan oleh pemerintah Puerto Rico.
"Penelitian kami menunjukkan bahwa kurangnya kesadaran dokter terhadap praktek sertifikasi kematian yang sesuai setelah bencana alam dan kurangnya komunikasi dari Puerto Rico tentang pelaporan sertifikat kematian sebelum musim badai 2017 membatasi jumlah kematian yang dilaporkan terkait dengan badai María ," dia menambahkan.