Mohammad Sio
31 Desember 2025•Update: 31 Desember 2025
ISTANBUL
Lebanon dan Mesir menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk memenuhi kebutuhan gas alam Lebanon guna pembangkit listrik, sebagai langkah awal peralihan sektor energi Beirut dari bahan bakar minyak ke gas yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
MoU tersebut ditandatangani pada Senin oleh Menteri Energi Lebanon Joe Saddy dan Menteri Perminyakan serta Sumber Daya Mineral Mesir Karim Badawi, disaksikan pejabat kedua negara, seperti dilaporkan kantor berita resmi Lebanon, NNA.
Saddy mengatakan Lebanon tengah berupaya mendiversifikasi sumber pasokan gas alam, termasuk melalui kerja sama paralel dengan negara-negara Teluk dan International Finance Corporation (IFC) untuk membangun fasilitas dan infrastruktur pembangkit listrik berbahan bakar gas.
Melalui kesepakatan ini, Lebanon akan dapat mengimpor gas alam dari Mesir ketika pasokan tersedia. “Seluruh rincian kontrak dan harga akan dibahas dalam beberapa pekan ke depan,” ujar Saddy.
Ia menjelaskan kerja sama dengan Mesir berpotensi berlanjut pada kontrak pasokan gas ke pembangkit listrik Deir Ammar di Lebanon utara sebagai tahap awal. Namun, realisasi rencana tersebut memerlukan rehabilitasi jaringan pipa, koordinasi dengan Suriah, serta negosiasi dengan Mesir, Yordania, dan Damaskus.
Saddy menyebut MoU ini sebagai langkah pendahuluan untuk memulihkan pasokan gas bagi pembangkitan listrik di Lebanon.
Sementara itu, Badawi menyatakan Mesir siap memberikan dukungan penuh kepada Lebanon dalam eksplorasi, produksi, transportasi, dan distribusi gas alam. Pernyataan tersebut disampaikan setelah pertemuannya dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun di istana kepresidenan di timur Beirut.
Menurut Badawi, keterlibatan Mesir sejalan dengan arahan Presiden Abdel Fattah al-Sisi dan merupakan tindak lanjut dari kunjungan perdana menteri Mesir ke Beirut baru-baru ini. Ia menegaskan kerja sama energi ini mencerminkan kuatnya hubungan bilateral kedua negara.
“Lebanon dapat memanfaatkan keahlian Mesir dalam eksplorasi dan produksi ladang gas, serta dalam distribusi gas ke industri, rumah tangga, dan pembangkit listrik,” kata Badawi, seperti dikutip pernyataan kepresidenan Lebanon.
Kedua negara juga akan membentuk kelompok kerja bersama di tingkat kementerian energi untuk mengoordinasikan langkah-langkah teknis, termasuk penyediaan infrastruktur yang diperlukan.
Presiden Aoun menyatakan MoU ini merupakan langkah praktis dan penting untuk meningkatkan produksi listrik dan mengurangi pemadaman bergilir yang saat ini terjadi di Lebanon.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, gas alam akan disalurkan melalui pipa ke pembangkit Deir Ammar dan berpotensi menambah sekitar 450 megawatt listrik ke jaringan nasional, atau setara dengan tambahan sekitar empat jam listrik per hari.
Selama bertahun-tahun, perusahaan listrik negara Lebanon hanya mampu menyediakan listrik selama beberapa jam per hari, memaksa warga dan pelaku usaha bergantung pada generator swasta yang mahal. Krisis listrik ini menjadi salah satu dampak utama dari infrastruktur yang menua, jaringan transmisi yang lemah, dan kurangnya investasi jangka panjang.