Rhany Chairunissa Rufinaldo
10 Desember 2019•Update: 11 Desember 2019
Aysu Bicer
ANKARA
Lembaga riset Swedia mengungkapkan dalam sebuah laporan bahwa 100 produsen senjata top dunia meningkatkan penjualan global mereka sebesar 47 persen sejak 2002.
Menurut laporan yang dirilis oleh Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI), total penjualan senjata pada 2018 berjumlah USD420 miliar (Rp5.885 triliun), meningkat 4,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Basis data SIPRI mengecualikan perusahaan China karena kurangnya data untuk membuat estimasi yang dapat diandalkan.
"Untuk pertama kalinya sejak 2002, lima tempat teratas dipegang secara eksklusif oleh perusahaan-perusahaan yang berbasis di AS, seperti Lockheed Martin, Boeing, Northrop Grumman, Raytheon dan General Dynamics," kata laporan itu.
Menurut laporan, lima perusahaan tersebut dapat menghasilkan USD148 miliar (Rp2.073 triliun) atau 35 persen dari total penjualan 100 penjual senjata tertinggi pada 2018.
Total penjualan senjata semua perusahaan AS yang berada di peringkat itu berjumlah USD246 miliar (Rp3.446 triliun) atau 59 persen dari semua penjualan yang masuk dalam daftar, meningkat 7,2 persen dibandingkan pada 2017.
Sebagai contoh, dua dari lima teratas, Northrop Grumman dan General Dynamics, melakukan akuisisi bernilai miliaran dolar pada 2018.
"Perusahaan-perusahaan AS sedang mempersiapkan program modernisasi senjata baru yang diumumkan pada 2017 oleh Presiden [Donald] Trump," kata Aude Fleurant, direktur Program Pengeluaran Senjata dan Militer SIPRI.
Fleurant menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan besar AS bergabung untuk dapat menghasilkan generasi baru sistem senjata dan karenanya berada dalam posisi yang lebih baik untuk memenangkan kontrak dari Pemerintah AS.
Data menunjukkan penjualan senjata oleh perusahaan Turki yang terdaftar di peringkat tersebut naik 22 persen pada 2018 menjadi USD2,8 miliar (Rp39,2 triliun).
Setidaknya 80 produsen senjata berbasis di AS, Eropa dan Rusia.
"Dari 20 yang tersisa, enam berpusat di Jepang, masing-masing tiga di Israel, India dan Korea Selatan, dua di Turki dan masing-masing satu di Australia, Kanada dan Singapura." tambah dia.
Penjualan tiga perusahaan Israel menyumbang USD8,7 miliar (Rp121,9 triliun), atau 2,1 persen dari 100 teratas.
Sementara itu, penjualan senjata gabungan dari tiga perusahaan senjata India yang terdaftar mencapai USD5,9 miliar (Rp82,6 triliun) pada 2018, turun 6,9 persen dari 2017.