Marıa Elısa Hospıta
03 Januari 2020•Update: 04 Januari 2020
Yahia Shaalan
BAGHDAD
Abu-Mahdi al-Muhandis, wakil ketua Hashd al-Shaabi Irak atau Pasukan Mobilisasi Populer (PMF), terbunuh dalam serangan udara Amerika Serikat di Baghdad.
Serangan itu menargetkan dua kendaraan yang melintas di dekat Bandara Baghdad pada Jumat.
Muhandis, target serangan tersebut, diduga melakukan pembunuhan di luar proses hukum di Irak sebelum berpartisipasi dalam operasi anti-Daesh / ISIS di negara itu pada 2017.
Doktor ilmu politik
Jamal Jafaar Mohammed Ali Ebrahimi, atau yang dikenal sebagai Abu Mahdi al-Muhandis di Iran, lahir pada 1954 di Basra.
Dia adalah komandan milisi Irak-Iran sekaligus politikus yang menikahi seorang perempuan Iran.
Muhandis meraih gelar sarjana Teknik Sipil pada 1977, dan memegang gelar PhD Ilmu Politik.
Karier politik
Muhandis bergabung dengan Partai Shia Dawa sejak dia duduk di bangku sekolah menengah atas.
Dia kemudian meninggalkan Irak pada 1980.
Kemudian pada 1985, dia menjadi anggota Dewan Islam Agung Irak yang berbasis di Iran.
Selain itu, Muhandis juga bergabung dengan pasukan elit Korps Badr, di mana dia menjabat sebagai komandan hingga akhir tahun 90-an.
Jatuhnya Mosul
Setelah mendirikan PMF, Muhandis terpilih sebagai wakil komandan pasukan itu, yang kemudian menggiringnya pada serangkaian tuduhan pembunuhan di luar proses hukum di Irak.
Setelah itu, dia berpartisipasi dalam operasi anti-Daesh/ISIS.
Pada 2014, Daesh/ISIS menguasai sepertiga wilayah Irak, termasuk Kota Mosul.
Kemudian pada akhir 2017, tentara Irak - dengan bantuan koalisi militer pimpinan AS - berhasil merebut kembali wilayah yang sebelumnya dikuasai kelompok teror itu.
Muhandis, pendiri milisi Kataib Hizbullah, yang merupakan kelompok payung PMF, sejak lama melatih milisi radikal Iran.
Berkat posisinya itu, dia juga dipercaya sebagai penasihat untuk Jenderal Qasem Soleimani, komandan pasukan elit Garda Revolusi Iran, yang juga tewas terbunuh dalam serangan udara AS.
Gelombang protes di Irak
Irak telah diguncang gelombang protes sejak awal Oktober tahun lalu karena buruknya kondisi kehidupan dan maraknya praktik korupsi.
Aksi protes berkepanjangan itu telah mendesak Perdana Menteri Adel Abdul-Mahdi untuk mengundurkan diri.
Menurut Komisi Hak Asasi Manusia Irak, sedikitnya 500 orang tewas dan 17.000 lainnya terluka dalam aksi protes tersebut.
Untuk membubarkan pengunjuk rasa, Muhandis pun memerintahkan anggota Brigade Hizbullah untuk menyerang demonstran antipemerintah.
*Bassel Barakat turut melaporkan dari Ankara