Rhany Chairunissa Rufinaldo
14 September 2018•Update: 14 September 2018
Dildar Baykan
NEW YORK
Menteri Luar Negeri Turki mengatakan pada Jumat pagi bahwa Washington harus mempertimbangkan kembali aliansinya di Suriah ketika rezim Assad bersiap untuk meluncurkan serangan berdarah di provinsi barat laut Idlib.
Dalam sebuah surat kepada New York Times yang berjudul 'Bencana yang membayangi Suriah', Mevlut Cavusoglu memperingatkan bahwa kelompok teroris YPG telah membentuk aliansi dengan Bashar al-Assad dan mengirim pasukan untuk membantunya merebut kembali Idlib dari para pemberontak.
"Aliansi ini tumbuh lebih dalam sejak pemimpin senior Pasukan Demokrasi Suriah, yang dipelopori oleh YPG, mengadakan pembicaraan formal dengan rezim Suriah untuk mengukir tempat bagi mereka di Suriah yang baru," katanya.
"Pasukan YPG yang beroperasi dari Suriah, hanya beberapa mil dari perbatasan Turki, tidak dapat dibendung. Sudah waktunya bagi Washington untuk menilai siapa sekutu sebenarnya di kawasan itu."
Terletak di dekat perbatasan Turki, Idlib adalah rumah bagi lebih dari 3 juta warga Suriah, banyak di antara mereka melarikan diri dari kota-kota lain setelah serangan oleh pasukan rezim.
Rezim Suriah baru-baru ini mengumumkan rencana untuk meluncurkan serangan militer besar-besaran di daerah itu, yang telah lama dikendalikan oleh berbagai kelompok oposisi bersenjata.
Akibatnya, Turki telah memperkuat kekuatan militer di perbatasannya dengan Suriah.
PBB telah memperingatkan bahwa serangan semacam itu akan mengarah pada "bencana kemanusiaan terburuk di abad ke-21".
Cavusoglu juga menekankan dalam suratnya bahwa YPG adalah afiliasi Suriah dari PKK, yang telah memimpin kampanye teror kekerasan di Turki selama lebih dari 30 tahun dan bahwa Turki, AS dan Uni Eropa telah memasukkan PKK dalam daftar organisasi teroris.
Dalam lebih dari 30 tahun kampanye teror melawan Turki, PKK bertanggung jawab atas kematian sekitar 40.000 orang.