Ali Abo Rezeg
ANKARA
"Jika harga untuk menjaga legitimasi adalah darah saya, maka saya siap untuk mengorbankannya demi keselamatan dan legitimasi tanah air ini."
Kata-kata ini adalah bagian dari pidato terakhir mantan Presiden Mesir Mohamed Morsi sebelum digulingkan dalam kudeta militer pada 3 Juli 2013.
Morsi tidak menggunakan kata-kata ini sebagai slogan untuk melancarkan agenda politiknya, tetapi banyak berkorban untuk membela pilihan rakyat Mesir atas dirinya sebagai presiden dalam pemilihan yang bebas dan transparan.
Pemimpin Ikhwanul Muslimin Mesir tersebut memenangkan pemilihan presiden demokratis pertama negara itu pada 2012.
Namun, setelah hanya satu tahun menjabat, dia digulingkan dan dipenjara dalam kudeta militer berdarah yang dipimpin oleh menteri pertahanan Mesir saat itu dan presiden saat ini Abdel Fattah al-Sisi.
Morsi lahir pada 8 Agustus 1951 di desa El Adwah, Provinsi Al-Sharqia, Mesir.
Dia tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya adalah seorang petani dan ibunya seorang ibu rumah tangga.
Menikah pada 1978, Morsi memiliki lima anak dan tiga cucu.
Dia meninggal dunia pada Senin, 17 Juni 2019, di pengadilan saat tengah menjalani persidangan atas sejumlah tuntutan hukum, yang menurutnya, bersama sejumlah kelompok hak asasi manusia dan pengamat independen, bermotivasi politis.
Karir akademis
Morsi pindah ke Kairo untuk belajar Teknik di Universitas Kairo dari 1970 hingga 1975 dan lulus dengan pujian sebelum diangkat sebagai dosen.
Dia kemudian memperoleh gelar Master di bidang teknik metalurgi pada 1978.
Pada tahun yang sama, Morsi mendapat beasiswa untuk belajar di Amerika Serikat dan menerima gelar PhD dalam ilmu material dari University of Southern California pada 1982.
Selama tinggal di AS, dia menjadi asisten profesor di California State University, Northridge, pada 1982-1985.
Morsi juga pernah bekerja dengan NASA pada awal 1980-an untuk membantu mengembangkan mesin pesawat ulang-alik.
Pada 1985, dia kembali ke Mesir dan menjadi profesor di Universitas Zagazig, di mana dia diangkat sebagai kepala departemen teknik dan bertugas di sana sebagai dosen hingga 2010.
Morsi kemudian terpilih sebagai anggota Komite Anti-Zionis dan merupakan anggota pendiri Komite Mesir Menolak Proyek Zionis.
Anggota parlemen yang sukses
Pada 2000, Morsi terpilih sebagai anggota Parlemen Mesir mewakili Ikhwanul Muslimin.
Dia adalah salah satu anggota Parlemen yang paling aktif, duduk di jabatan tersebut pada pada 2000-2005.
Morsi bersama-sama mendirikan Asosiasi Nasional untuk Perubahan pada 2004 dan Asosiasi Mesir untuk Perubahan dengan tokoh terkenal Mohamed ElBaradei pada 2010, yang memainkan peran penting dalam mempersiapkan revolusi Mesir dan penggulingan mantan Presiden Hosni Mubarak pada 2011
Dia sempat ditangkap oleh Rezim Mubarak karena perannya dalam asosiasi sebelum akhirnya dibebaskan oleh massa beberapa hari sebelum sang presiden digulingkan.
Pemimpin Ikhwanul Muslimin
Morsi ikut mendirikan Partai Kebebasan dan Keadilan, lengan politik Ikhwanul Muslimin, serta Aliansi Demokratik, yang mencakup banyak partai.
Pada 30 April 2011, Dewan Syura Ikhwanul Muslimin memilihnya sebagai ketua Partai Kebebasan dan Keadilan bersama Issam al-Erian sebagai wakilnya dan Mohammad Saad Al-Katatni sebagai sekretaris.
Morsi memenangkan pemilihan presiden pertama pasca-revolusi 2012 dan menjadi presiden kelima sekaligus presiden sipil pertama Mesir yang terpilih secara demokratis.
Tahun berikutnya, muncul aksi protes anti-Morsi yang berakhir dengan penggulingannya oleh kudeta militer yang dipimpin menteri pertahanan Mesir dan presiden saat ini Abdel Fattah el-Sisi.
Dia menghadapi sejumlah tuduhan setelah digulingkan dan dipenjara, termasuk di antaranya pembunuhan, menjadi mata-mata untuk Qatar, mata-mata untuk Hamas dan Hizbullah, menghina pengadilan, melarikan diri dari penjara dan terlibat dalam terorisme.
Keluarga Morsi bersama dengan organisasi lokal dan internasional berulang kali mengeluh tentang kondisinya yang semakin buruk di dalam penjara.
Semua keluhan dan upaya banding diabaikan oleh otoritas Mesir.
Abdel-Monem Abdel-Maqsoud, kuasa hukum Morsi, mengatakan tim pembela menerima berita kematiannya dari para terdakwa lain yang ada bersamanya selama sesi itu.
"Presiden Morsi dipindahkan dari pengadilan dan kami tidak tahu lokasinya karena kami mengikuti prosedur setelah kematian," ujar Abdel-Maqsoud.
Dia menambahkan bahwa Morsi mengatakan selama persidangan terakhirnya bahwa dia akan tetap bangga dengan negaranya meskipun menderita ketidakadilan setelah kudeta.
"Saya mengetahui rahasia yang tidak akan saya ungkapkan demi keamanan negara saya," kata Morsi, seperti dikutip oleh pengacaranya.
Sang kuasa hukum mengungkapkan bahwa Morsi juga mengkritik cara dia diperlakukan di dalam penjara.