Şerife Çetin
13 April 2018•Update: 14 April 2018
Şerife Çetin
BRUSSELS
Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg mengatakan, “Kami mengutuk keras serangan dengan senjata kimia di Ghouta Timur."
Dalam konferensi pers dengan Perdana Menteri Slovakia Peter Pellegrini, Stoltenberg mengatakan,"Semua pihak harus bertanggung jawab."
Stoltenberg menjelaskan, Iran dan Rusia yang berperan sebagai pendukung rezim Assad bertanggungjawab atas penyerangan senjata kimia di distrik Douma, Ghouta Timur.
Dia menuturkan, "kami menyerukan kepada rezim di Suriah dan para pendukungnya Rusia dan Iran, untuk menyediakan akses penuh dan tanpa hambatan kepada para pengawas dan petugas kesehatan internasional di kawasan itu."
Sekjen NATO itu menambahkan bahwa anggota NATO sedang melakukan koordinasi untuk menanggapi serangan senjata kimia tersebut.
Sebanyak 78 orang tewas dalam serangan senjata kimia di permukiman sipil di Duma, sebuah distrik di Ghouta Timur pada 7 April lalu.
Badan pertahanan sipil setempat menyalahkan pasukan rezim Bashar al-Assad atas serangan itu.
Serangan dengan senjata kimia itu telah mengundang kecaman dari seluruh dunia.
Pada 24 Februari, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengadopsi Resolusi 2401 yang menyerukan gencatan senjata selama sebulan di Suriah, khususnya di Ghouta Timur, untuk memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan.
Rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad masih terus menggunakan senjata kimia meski sebelumnya mengklaim telah memusnahkan persediaan senjata kimia di Suriah.
Pasukan rezim telah meluncurkan 215 serangan kimia sejak perang sipil meletus di Suriah, menurut Jaringan Suriah Untuk Hak Asasi Manusia (SNHR).
Serangan-serangan itu bertujuan untuk memaksa warga sipil keluar dari daerah yang dikuasai oposisi.
Serangan kimia di distrik Douma di Ghouta Timur pada Sabtu sekali lagi membuktikan bahwa rezim masih belum berhenti menggunakan senjata kimia.