Hayati Nupus
10 Januari 2021•Update: 12 Januari 2021
JAKARTA
Majelis Syura Ormas-ormas Islam Malaysia (MAPIM) menyambut baik akhir dari blokade Qatar dalam Konferensi Tingkat Tinggi Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang digelar di Provinsi Al-Ula, Arab Saudi, meski dampak regionalnya tetap akan bertahan lama dan tidak akan hilang dengan penandatanganan deklarasi.
Presiden MAPIM Mohd Azmi Abdul Hamid mengatakan pencabutan blokade Qatar setelah lebih dari tiga tahun itu tak berarti mengakhiri keretakan di wilayah Teluk atau sesuai dengan rekonsiliasi bilateral antara Arab Saudi dan negara ber-ibukota Doha tersebut.
“Pernyataan permusuhan yang mengarah pada blokade telah tertanam kuat di antara orang-orang antara negara-negara ini dan Qatar mungkin membutuhkan lebih banyak waktu untuk pulih,” ujar Azmi, dalam siaran pers pada Minggu.
Konflik itu berdampak panjang dan perlu waktu lama untuk pulih, imbuh Azmi.
Terlebih, perbedaan masalah regional antara Qatar dan beberapa tetangganya, terutama UEA, telah lama mendahului blokade tahun 2017.
Azmi berpendapat bahwa Saudi dan tiga negara Arab lain yang turut serta dalam blokade Qatar membatalkan kebijakan mereka untuk tunduk pada AS dan agenda zionis Israel.
“Mereka tidak bisa membiarkan diri mereka menjadi alat AS dan zionis untuk memutuskan hubungan,” imbuh Azmi.
Terlebih blokade tidak terbatas hanya perselisihan politik antar-elite, melainkan mengganggu ranah sosial kehidupan masyarakat antar negara.
Dampak politiknya, menurut Azmi, perjanjian tersebut dibuat sesuai keinginan Washington dengan memosisikan vis-à-vis pemerintahan Biden yang akan datang.
“Artinya, masa depan GCC masih akan digerakkan oleh kekuatan asing,” kata Azmi.