İqbal Musyaffa
22 Januari 2018•Update: 23 Januari 2018
İqbal Musyaffa
JAKARTA
Pakar saham mengatakan status penutupan pemerintah (government shutdown) Amerika Serikat (AS) tidak berdampak besar bagi perekonomian dan pergerakan saham di Indonesia.
Analis Bahana Sekurities Muhammad Wafi kepada Anadolu Agency mengatakan dampak minim dari shutdown tersebut karena status tersebut bukan pertama kali terjadi di Amerika Serikat.
“Market tidak terpengaruh karena masalah itu bisa selesai dengan sendirinya,” ujar dia, Senin.
Hal tersebut terbukti dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan. Pada pembukaan pasar pagi ini IHSG dibuka pada posisi 6.495,38 lebih tinggi dari pada saat penutupan hari sebelumnya yang berada di level 6.490,9.
IHSG juga hingga penutupan sesi satu siang ini terus bergerak menguat hingga ke level 6.511,63. Menurut Wafi, pasar justru lebih memperhatikan isu angka PDB AS yang rencananya akan diumumkan pada Jumat nanti.
Menurut dia, pasar berekspektasi GDP AS akan tumbuh di kisaran 2,2-2,9 persen. Apabila GDP AS tumbuh di kisaran tersebut, maka tren positif terhadap bursa-bursa dunia termasuk IHSG akan berlanjut.
“Minggu ini sampai Jumat market akan bergerak terbatas karena wait and see GDP AS,” ujar dia.
Sependapat dengan Wafi, Analis Global Market Bank Mega James Evan Tumbuan mengatakan kondisi di AS tidak berdampak besar terhadap perekonomian Indonesia. Menurut dia, pergerakan rupiah terhadap dolar hanya melemah di kisaran 20-30 poin.
“Dollar akan rebound ke level Rp13.325-Rp13.375 karena terlalu banyak dijual pada Jumat lalu, bukan karena dampak shutdown,” ujar dia.
Dalam beberapa hari ke depan, menurut dia nilai tukar dollar terhadap rupiah tidak akan menyentuh angka Rp13.400.
Nilai tukar dollar terhadap mata uang besar seperti euro dan poundsterling menurut dia akan menguat karena pada Jumat kemarin dollar berada pada level terendah terhadap mata uang besar lainnya yang merupakan level terendah dalam empat hingga lima tahun terakhir.
“Justru yang perlu diperhatikan adalah volatilitas rupiah pada Februari mendatang menjelang pengumuman penggantian Gubernur bank sentral AS,” jelas James.
Pada Februari nanti ketika Janet Yellen akan digantikan oleh Jerome Powell, menurut dia rupiah diperkirakan akan bergejolak hingga ke level Rp13.375-Rp13.425 per dollar AS.
Dalam politik AS, penutupan pemerintahan atau government shutdown adalah situasi ketika Kongres gagal menyepakati anggaran yang diperlukan untuk operasi pemerintahan.