İqbal Musyaffa
16 Januari 2018•Update: 16 Januari 2018
İqbal Musyaffa
JAKARTA
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan tidak akan berdampak setelah robohnya lantai mezzanine di tower II Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin siang kemarin.
Pada pembukaan pasar pagi ini, Selasa, IHSG dibuka pada level 6.386,22 menguat dari saat penutupan pasar hari sebelumnya yang berada pada level 6.382,19. Hingga pukul 09.45 IHSG terus menguat ke level 6.408,27.
Kecenderungan IHSG yang terus menguat dan tidak terdampak karena insiden gedung menurut Analis Bahana Sekurities Muhammad Wafi karena pelaku pasar saat ini sudah cukup pintar dalam menyikapi setiap kondisi yang ada.
“Insiden di gedung BEI tidak menyebabkan sentimen apapun di pasar,” jelas Wafi kepada Anadolu Agency Selasa.
Pelaku pasar menurut dia lebih melihat pada kinerja operasional perdagangan.
Setelah insiden kemarin tidak ada dampak apapun terhadap pasar termasuk tidak adanya penundaan perdagangan sesi dua.
Ketenangan pasar juga disebabkan oleh BEI yang pada kemarin sore memastikan bahwa aktivitas perdagangan tetap berjalan seperti biasa.
Kepala Divisi Komunikasi Perusahaan BEI Oskar Herliansyah pada kemarin sore juga mengatakan perdagangan pada hari kejadian berlangsung dengan lancar.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin ditutup di level 6.382,19 poin atau menguat 0,19 persen dari penutupan perdagangan Jumat.
“Total nilai transaksi perdagangan saham harian BEI pada hari Senin sebesar Rp7,90 triliun, total volume transaksi perdagangan saham harian BEI sebesar 10,77 miliar unit saham. Sedangkan total frekuensi transaksi perdagangan saham harian BEI berjumlah 293,83 ribu kali transaksi,” urai dia.
Analis PT MNC Securities Edwin Sebayang juga sependapat bahwa efek dari insiden di gedung BEI kemarin hanya sesaat. Saat ini menurut dia sudah tidak ada dampak apa-apa lagi.
“Memang kemarin banyak dari pelaku pasar luar negeri yang menanyakan ada apa. Setelah dijelaskan mereka hanya menanggapi biasa saja,” ungkap Edwin.
Menurut dia respon pasar yang biasa saja terhadap kejadian kemarin karena insiden tersebut lebih disebabkan oleh struktur bangunan dan bukan karena ledakan bom atau aksi terorisme.
“Kalau itu karena bom jelas akan sangat berpengaruh karena bursa sangat sensitif. Terlebih lagi IHSG adalah salah satu indikator perekonomian nasional,” imbuh dia.
Terlepas dari insiden kemarin, ia tidak melihat ada tanda-tanda IHSG akan melemah. Sebaliknya, IHSG diperkirakan terus menguat sebagai antisipasi dari kinerja emiten serta dampak dari penguatan nilai tukar rupiah.
Kenaikan harga-harga komoditas seperti batubara, nikel, timah, dan emas menurut Edwin turut berpengaruh terhadap penguatan indeks.
“Indonesia kan struktur ekonominya masih berdasarkan komoditas. Jadi kalau harga komoditas baik, ekonomi akan menguat serta meningkatkan daya konsumsi masyarakat,” tambah Edwin.