Iqbal Musyaffa
05 Februari 2018•Update: 06 Februari 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menurut Analis Global Market Bank Mega James Evan Tumbuan akan tertekan cukup dalam pada awal pekan ini.
Hal tersebut terjadi, menurut James, karena pasar sedang menunggu pelantikan Jerome Powell sebagai gubernur bank sentral AS (The Federal Reserve) pada hari ini.
“Masih ada ketidakpastian apakah Jerome Powell sebagai Gubernur The Fed yang baru akan lebih agresif menaikkan suku bunga atau tidak,” jelas Evan, pada Senin.
Oleh karena itu, kata Evan, bursa saham AS terkoreksi Jumat lalu yang mengakibatkan terjadinya pelemahan indeks Dow Jones. Akibatnya, IHSG terus tertekan.
Akhir pekan lalu IHSG ditutup melemah pada level 6.628,820. Kemudian, pada awal pekan ini terus melemah menjadi 6.527,37 poin.
“Untuk hari ini IHSG diperkirakan akan berada dalam range 6.450 sampai 6.600,” tambah dia.
Evan juga beranggapan pelaku pasar masih menerka arah pidato perdana Jerome Powell nanti. Bursa saham juga terkoreksi seiring turunnya harga obligasi di AS.
Rupiah masih tertekan
Sementara itu, Evan juga memprediksi nilai tukar rupiah atas dolar AS masih tertekan. Dia memperkirakan nilai tukar rupiah hari ini akan berada pada angka Rp13.450 hingga Rp13.535 per dolar AS.
Tertekannya rupiah, menurut dia, akibat membaiknya data ketenagakerjaan di AS. Data ketenagakerjaan non pertanian (nonfarm payrolls/NFP) di AS naik 200 ribu, lebih besar dari angka proyeksi 180 ribu. Rata-rata upah tenaga kerja per jam di AS juga naik 0,3 persen.
Menurut Evan, NFP merupakan salah satu indikator perekonomian di AS. Membaiknya data tersebut membuat dolar menguat sehingga menekan mata uang lainnya, termasuk rupiah.
Perbaikan NFP membuat AS akan menaikkan suku bunga antara Maret atau April tahun ini. Dalam setahun, menurut Evan, AS akan menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali sehingga membuat dolar kian perkasa.
“Dampak dari penguatan dolar AS adalah rupiah yang kian tertekan,” tambah Evan.
Akan tetapi, arah pergerakan rupiah menurut dia sangat tergantung pada pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akan dirilis Badan Pusat Statistik siang nanti.