Muhammad Abdullah Azzam
12 Januari 2021•Update: 13 Januari 2021
Ruslan Rehimov
BAKU
Azerbaijan telah mengundang delegasi 20 ahli psikologi dari Turki untuk rehabilitasi warga sipil yang terkena dampak serangan Armenia.
Setelah perang bersejarah di negara itu melawan pendudukan Armenia hampir tiga dekade, keluarga veteran dan martir, serta sejumlah warga sipil mengalami gangguan stres pasca-trauma, depresi, kesulitan dalam komunikasi, insomnia, agresi dan masalah kesehatan mental serupa, kata Kementerian Situasi Darurat Azerbaijan.
Kementerian itu mencatat bahwa mereka telah membentuk layanan darurat untuk orang-orang seperti itu dengan pakar psikologi yang bertugas 24 jam sepanjang minggu.
Hubungan antara bekas republik Soviet di Azerbaijan dan Armenia tegang sejak 1991, ketika militer Armenia menduduki Nagorno-Karabakh, yang juga dikenal sebagai Karabakh Atas, sebuah wilayah yang diakui sebagai bagian dari Azerbaijan, dan tujuh wilayah yang berdekatan lainnya.
Ketika bentrokan baru meletus pada 27 September, tentara Armenia melancarkan serangan terhadap warga sipil dan pasukan Azerbaijan serta melanggar beberapa perjanjian gencatan senjata kemanusiaan.
Selama 44 hari pertempuran sengit, Azerbaijan membebaskan beberapa kota dan hampir 300 pemukiman dan desa dari pendudukan.
Kedua negara menandatangani gencatan senjata yang ditengahi Rusia pada November untuk mengakhiri perang dan bekerja menuju resolusi yang komprehensif.
Gencatan senjata dipandang sebagai kemenangan Azerbaijan dan kekalahan Armenia, yang angkatan bersenjatanya telah ditarik sesuai dengan kesepakatan gencatan senjata tersebut.