Muhammad Abdullah Azzam
17 Desember 2020•Update: 18 Desember 2020
Aamir Latif
KARACHI, Pakistan
Pakistan pada Rabu menyampaikan kecaman terhadap sanksi sepihak Amerika Serikat (AS) kepada Turki baru-baru ini.
Negara itu juga ikut mengkritik langkah kontroversial Washington.
"Pakistan sangat prihatin atas pengenaan sanksi terhadap Turki oleh Amerika Serikat," ungkap pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Pakistan.
Pernyataan itu menambahkan bahwa Islamabad memiliki prinsip untuk menentang penggunaan tindakan "pemaksaan sepihak" terhadap negara mana pun.
Kemudian Kemlu Pakistan mendesak dilakukannya dialog dan mengatakan perlunya "mengakui dan menghargai" peran Turki yang tak ternilai untuk perdamaian dan stabilitas regional dan internasional.
"Rakyat dan pemerintah Pakistan menegaskan kembali dukungan kuat mereka kepada pemerintah dan rakyat Turki dalam upaya mereka untuk keamanan nasional, perdamaian dan kemakmuran,” ungkap otoritas Pakistan.
Negara itu menekankan bahwa mereka akan terus mendukung Turki untuk pencapaian tujuan bersama ini.
AS pada Senin memberlakukan sanksi terhadap Turki atas pembelian sistem pertahanan rudal S-400 Rusia.
Sanksi bedasarkan Undang-Undang Penentang Lawan Amerika Melalui Sanksi (CAATSA) itu menargetkan Direktorat Industri Pertahanan (SSB) Turki, termasuk Ismail Demir, kepala SSB, dan tiga pejabat lainnya.
Pada April 2017, ketika upaya berlarut larut untuk membeli sistem pertahanan udara dari AS tidak membuahkan hasil, Turki pun menandatangani kontrak dengan Rusia untuk membeli rudal S-400.
Akuisisi Turki atas sistem pertahanan udara S 400 Rusia yang canggih mendorong AS menghapus Turki dari program F-35 pada Juli 2019.
AS mengklaim sistem tersebut dapat digunakan oleh Rusia secara diam-diam untuk mendapatkan informasi rahasia pada jet tersebut dan tidak sesuai dengan sistem NATO.
Turki pun membantah bahwa S-400 tidak akan diintegrasikan ke dalam sistem NATO dan tidak akan menimbulkan ancaman bagi aliansi tersebut, dan mengusulkan komite memeriksa masalah tersebut.
Negara itu juga mengatakan pihaknya membeli sistem Rusia setelah AS selama bertahun-tahun menolak upayanya untuk membeli rudal Patriot AS.