Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Para ahli di Amerika pada Rabu memperingatkan ancaman yang dibawa oleh Organisasi Teroris Fetullah (FETO) di negaranya.
"Saya rasa gerakan Gulen di AS membuahkan ancaman keamanan yang unik dan tak biasa," kata Mark Hall, produser, penulis naskah dan sutradara film dokumenter "Killing Ed", yang menyelidiki praktik-praktik finansial mencurigakan di sekolah-sekolah komunitas yang terafiliasi dengan FETO di AS.
Berbicara dalam panel "Usaha Kudeta 15 Juli: Dua Tahun Kemudian" yang diadakan oleh Global Policy Institute di Washington , D.C., Hall mengatakan FETO mengancam AS dengan cara membawa masuk ke negaranya pegawai-pegawai yang tak berkualitas dari luar negeri, terutama dari Turki, juga melalui praktik pencucian uang dan pemalsuan dokumen untuk mengelabui otoritas lokal dan federal.
Dia menekankan bahwa kelompok teror ini juga telah membayar firma-firma humas terkemuka selama bertahun-tahun untuk meyakinkan masyarakat Amerika bahwa mereka adalah kelompok yang mendukung demokrasi, sesuai nilai-nilai Amerika. Namun penyelidikan lebih dekat menunjukkan niat mereka yang justru sebaliknya.
"Gerakan Gulen telah membayar sebuah firma humas besar selama 19 tahun untuk membuat kisah tentang mereka. Namun jika Anda melihat lebih dekat, kelompok ini sama sekali tidak demokratis atau memikirkan kepentingan AS," ujar Hall.
Menekankan bahwa pemimpin FETO, Fetullah Gulen, yang kini berada di AS harus diekstradisi ke Turki, dia juga menambahkan pemerintah AS harus memperhatikan masalah-masalah imigrasi yang terkait dengan sekolah-sekolah komunitas FETO tersebut.
"Sekolah-sekolah ini harus dihapus dari menerima uang pajak," ujar dia.
FETO dan Gulen mendalangi usaha kudeta yang digagalkan pada 15 Juli 2016, yang membuat 250 orang menjadi martir dan nyaris 2.200 lainnya terluka.
Ankara juga menuduh FETO berada di balik kampanye panjang untuk menggulingkan pemerintahan melalui infiltrasi institusi pemerintahan Turki, terutama di militer, kepolisian dan pengadilan.
Hall, dalam panel sebelumnya, menceritakan bahwa dia mendengar tentang kudeta 15 Juli dari berita di televisi ketika dia sedang membuat film dokumenternya. Dia menyatakan "tidak terkejut" ketika mengetahui FETO adalah dalang di belakangnya.
Pembicara lain dalam panel tersebut, Abraham Wagner, yang merupakan dosen hukum keamanan nasional di Columbia Law School, berkata bahwa praktik korupsi pajak dan imigrasi yang dilakukan FETO di AS harus diselidiki sampai tuntas.
Dia juga berucap, FETO tidak dikenal secara detail di Amerika.
"Tidak ada pengetahuan publik dan media di Amerika soal apa sebenarnya gerakan Gulen itu," kata Wagner. "Sayangnya ini tidak mendapatkan perhatian media atau pihak berwajib seperti yang seharusnya."
Mary Addi, yang sebelumnya mengajar di sebuah sekolah milik gerakan Gulen di AS, juga berbicara di panel itu.
Addi berkisah, pertama kali dia menyadari bahwa suaminya, yang juga mengajar di sekolah yang sama dan berwarganegaraan Turki, adalah anggota gerakan itu ketika dia memberikan 40 persen gajinya kembali kepada gerakan tersebut.
"Saya berkata pada suami saya, 'Apakah kamu sadar ini tidak legal? Mereka memeras uangmu,'" ujar dia, menyebut tindakan ini "ilegal dan pencucian uang".
Addi juga berkata bahwa FETO mencoba memaksa suaminya untuk menceraikannya karena dia menyelidiki praktik korupsi gerakan tersebut. Addi, bersama suaminya, mengumpulkan bukti-bukti penyalahgunaan yang dilakukan sekolah dan menyerahkannya kepada pihak berwajib.
Meski begitu, dia berujar diberi tahu bahwa pihak berwajib yang menyelidiki gerakan ini kesulitan melacak alur pencucian uang.
Addi lantas mengatakan telah melakukan wawancara dengan berbagai media luar, sementara media Amerika sendiri tidak pernah membahas isu ini.
"Di mana para pejabat pemerintah kita? Mengapa negara kita sendiri tidak melakukan apa-apa tentang sekolah-sekolah ini? Saya tidak meragukan lagi, gerakan mereka jahat, berbahaya dan teroris."
news_share_descriptionsubscription_contact

