Havva Kara Aydın
12 Januari 2020•Update: 13 Januari 2020
Emre Aytekin
ANKARA
Para pengunjuk rasa di Hong Kong berkumpul pada hari Minggu untuk menuntut hak pilih universal dalam pemilihan legislatif tahun depan.
Menurut South China Morning Post, sekitar 1.000 orang bergabung dengan massa demonstran di Edinburgh Place di wilayah tengah kota Hong Kong.
Ventus Lau Wing-hong, juru bicara para pengunjuk rasa Hong Kong, menyerukan kepada masyarakat internasional untuk menjatuhkan sanksi kepada pejabat Hong Kong jika tidak memberikan hak pilih universal dalam pemilihan anggota Dewan Legislatif pada bulan September.
“Jika Hong Kong memiliki Dewan Legislatif yang mewakili suara rakyat, yang membela kepentingan Hong Kong, RUU ekstradisi akan diveto sejak lama. Kami tidak membutuhkan waktu selama tujuh bulan untuk pertumpahan darah,” katanya.
Protes di Hong Kong - wilayah otonom yang berada di bawah kekuasaan Tiongkok sejak 1997 - dipicu oleh langkah pemerintah untuk melegalkan ekstradisi ke daratan Cina. Undang-Undang yang diusulkan itu kemudian ditarik.
Namun, protes itu telah memicu seruan untuk melakukan penyelidikan atas kebrutalan polisi, pembebasan aktivis yang ditahan, dan pencabutan istilah resmi "kerusuhan" untuk demonstrasi yang sedang berlangsung di Hong Kong.
"Pada tahun-tahun mendatang, warga Hongkong harus bisa membuat suaranya didengar oleh masyarakat internasional, dan memberi tahu mereka bahwa perjuangan kami melawan otoritarianisme belum berakhir," kata juru bicara para pengunjuk rasa.
* Ditulis oleh Havva Kara Aydin