14 Juli 2017•Update: 17 Juli 2017
Abdel-raouf Arnaut
YERUSALEM
Pasca adu tembak, pihak berwenang Israel meniadakan salat Jumat dan menutup Masjid Al-Aqsa untuk umum pertama kalinya dalam hampir lima dasawarsa, kata ulama Palestina.
Keputusan ini diambil setelah polisi Israel menembak mati tiga warga Palestina yang diduga membawa senjata tajam ke dalam kompleks Al-Aqsa.
Menurut saksi mata, polisi Israel saat ini tengah memperketat keamanan dengan mengerahkan ratusan tentara dan memagari pintu masuk Kota Tua Yerusalem.
“Ini adalah langkah yang berbahaya dan serangan yang nyata terhadap kebebasan beribadah,” kata Direktur masjid Al-Aqsa Omar Qisman kepada Anadolu Agency.
Mufti Yerusalem Sheikh Mohammad Hussein telah mengumpulkan umat Muslim untuk melakukan salat Jumat di sekitar tembok kota tua.
Sheikh Ekrima Sabri mengatakan pertama kalinya salat Jumat tidak diadakan di Al-Aqsa adalah pada akhir Agustus 1969, sehari setelah Michael Rohan, seorang warga Australia, membakar masjid tersebut.
Israel menduduki Yerusalem Timur selama Perang Timur Tengah 1967, sebelum kemudian menduduki kota tersebut sepenuhnya pada tahun 1980, dan mengklaim Yerusalem sebagai ibukota “abadi” Yahudi – sebuah langkah yang tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.
Suci bagi umat Muslim, Yahudi, maupun Kristen, Yerusalem merupakan rumah bagi Masjid Al-Aqsa, tempat tersuci ketiga di dunia bagi umat Muslim.