Muhammad Abdullah Azzam
07 Januari 2020•Update: 08 Januari 2020
Enes Canlı
TRIPOLI
Pasukan Jenderal Khalifa Haftar di Libya merebut Sirte, kota pinggir laut di bagian utara sejauh 400 kilometer dari arah timur ibu kota Tripoli.
Sebuah pernyataan tertulis dari Operasi Burkan Al-Ghadab (Volcano of Rage) yang berafiliasi dengan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) Libya mengatakan serangan multinasional menggempur kota Sirte sejak Senin pagi.
Pernyataan itu menyebut sebenarnya pasukan GNA memiliki kesempatan untuk mempertahankan kota tersebut, tetapi pasukan Libya di lapangan terus berkomunikasi dengan markas besar di ibu kota.
Lantas pasukan GNA menarik diri sesuai instruksi rantai komando setelah mempertimbangkan keselamatan jiwa 120 ribu warga sipil di kota tersebut.
Pernyataan otoritas Libya itu mengatakan bahwa setelah meningkatnya risiko bentrokan di jalan-jalan dengan menggunakan senjata berat memperkuat keputusan untuk menarik diri ditambah dengan membelotnya kelompok bersenjata Madhkali Salafi di Sirte.
Nampak beredar gambar di media sosial para pendukung rezim lama dan milisi pro-Haftar merayakan kemenangan mereka di Sirte, kota lahir pemimpin lama Muammar Khaddafi yang digulingkan pada 2011.
Sejak penggulingan pemerintahan Khaddafi itu, dua poros kekuasaan yang saling bersaing muncul di Libya, satu di Libya Timur yang didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, dan satu lagi di Tripoli yang mendapat pengakuan PBB dan internasional.