Rıskı Ramadhan
04 Desember 2017•Update: 05 Desember 2017
MAGHRIB, Yaman
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak semua pihak di Yaman untuk mengakhiri kekerasan dan "menjamin perlindungan warga sipil" pada Minggu.
Melalui akun Twitter-nya, Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Yaman Jamie McGoldRick mengungkapkan keprihatinannya atas konflik yang berlangsung antara pihak yang melawan pemerintah sah di Sana’a.
"Laporan awal menunjukkan puluhan warga sipil terbunuh dan ratusan lainnya terluka dalam pertempuran yang sedang berlangsung. Banyak warga sipil terjebak di rumah mereka," tulis McGoldrick.
McGoldrick mendesak semua pihak untuk mengikuti hukum hak asasi manusia internasional, melindungi sipil infrastruktur kota.
"Saya meminta pihak-pihak untuk menghentikan kekerasan," tulis dia.
Sementara itu, Komite Palang Merah Internasional (ICRC) kembali menyerukan penghentian kekerasan di Yaman pada Minggu.
“Ribuan orang terjebak di rumah mereka, dengan sedikit makanan atau air, terlalu takut keluar karena takut tertembak. Wanita hamil tidak bisa ke rumah sakit. Situasi mengerikan. Kami ulangi: Warga sipil bukan bagian dari perjuangan, " tulis ICRC di Twitter.
Setidaknya 36 orang termasuk warga sipil tewas dan 225 lainnya luka-luka dalam bentrokan yang berlangsung selama dua hari di ibukota Yaman, Sanaa, menurut seorang sumber medis, Minggu.
Yaman dilanda perang saudara sejak 2014, ketika kelompok pemberontak Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah negara, sehingga memaksa pemerintah Yaman yang diakui secara internasional melarikan diri ke Arab Saudi.
Pada 2015, Arab Saudi dan sekutunya melancarkan kampanye udara besar-besaran untuk menggulingkan pertahanan Houthi.
Menurut ICRC, lebih dari 3 juta orang Yaman terpaksa meninggalkan rumah mereka sejak konflik dimulai, sementara lebih dari 20 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan.