Muhammad Abdullah Azzam
18 Juni 2020•Update: 18 Juni 2020
Jeyhun Aliyev
ANKARA
Serangan udara koalisi pimpinan Saudi di Yaman yang menewaskan sedikitnya belasan warga sipil, termasuk anak-anak, adalah hal yang "mengerikan dan tak dapat dibenarkan", ungkap badan PBB.
Laporan awal menunjukkan bahwa setidaknya 12 warga sipil, termasuk empat anak, tewas dalam serangan sebuah kendaraan di distrik Saada di provinsi Saada, Yaman utara pada Senin, kata Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) dalam sebuah pernyataan tertulis.
“Kami mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga yang ditinggalkan dan orang-orang terkasih dari mereka yang telah tewas dalam serangan yang mengerikan dan tidak dapat dibenarkan ini,” kata Lise Grande, koordinator kemanusiaan untuk Yaman.
Grande juga mengungkapkan bahwa pertempuran terus berlanjut di negara itu meski ketua PBB menyerukan gencatan senjata global di tengah wabah Covid-19 pada akhir Maret.
"Lebih dari 800 korban sipil berguguran di Yaman sebagai akibat pertempuran sejak Januari lalu dan beberapa insiden yang melibatkan banyak korban sipil sejak akhir Mei," kata Grande.
Yaman "sangat membutuhkan perdamaian", kata Grande, menambahkan bahwa lembaga-lembaga kemanusiaan kehabisan uang sementara pandemi masih terus menyebar.
"Jutaan orang yang bergantung pada bantuan makanan dan layanan kesehatan yang kami sediakan untuk memerangi kolera dan malaria kini menipis. Hanya ada satu jawaban — perang perlu dihentikan. Yaman tetap menjadi krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Hampir 80 persen dari populasi membutuhkan beberapa bentuk bantuan dan perlindungan kemanusiaan," catat Grande.
Yaman dilanda oleh kekerasan dan kekacauan sejak 2014, ketika pemberontak Houthi menguasai sebagian besar negara, termasuk Sanaa.
Krisis meningkat pada 2015 ketika koalisi militer pimpinan Saudi meluncurkan kampanye udara yang menghancurkan untuk menggulung kembali kemenangan teritorial Houthi.
Puluhan ribu warga Yaman, termasuk warga sipil, terbunuh dalam konflik, yang telah menyebabkan krisis kemanusiaan terburuk di dunia karena jutaan orang tetap berisiko kelaparan.