Muhammad Abdullah Azzam
18 Juni 2020•Update: 18 Juni 2020
Riyaz ul Khaliq
ANKARA
China pada Rabu menyerukan kepada India untuk "menahan tentaranya agar mencegah tindakan provokatif" di wilayah perbatasan.
Dalam pembicaraan telepon dengan sejawatnya dari India, Menteri Luar Negeri China Wang Yi mendesak India untuk menyelidiki bentrokan militer pada Senin lalu di daerah Ladakh, Jammu Kashmir yang disengketakan.
"[China] mendesak India untuk menyelidiki insiden bentrokan di wilayah perbatasan pada Senin, menghukum mereka yang bertanggung jawab, dan menahan pasukannya di wilayah tersebut untuk mencegah tindakan provokatif," kata Wang kepada Subrahmanyam Jaishankar, menurut harian Global Times.
India pada Selasa mengkonfirmasi bahwa sedikitnya 20 tentaranya, termasuk seorang perwira, tewas di daerah Ladakh timur di sepanjang Garis Kontrol Aktual (LAC) - perbatasan de facto India dan China di wilayah yang disengketakan.
Ini adalah pembicaraan pejabat tinggi pertama antara kedua negara sejak ketegangan meletus di wilayah Ladakh pada awal Mei.
Sebelumnya hari ini, China menegaskan kembali klaimnya bahwa bentrokan militer baru-baru ini dengan India terjadi di pihak Beijing LAC sehingga "tanggung jawab [dari bentrokan] tidak berada di tangan China".
Pertempuran perbatasan antara China dan India dimulai sejak 5 Mei di Lembah Galwan di Ladakh, diikuti tiga hari kemudian di tempat yang lain di lintasan Nakula di provinsi Sikkim, timur laut India.
Sebanyak 20 tentara India terbunuh dalam pertempuran sengit dengan China di sepanjang perbatasan di daerah Ladakh di Jammu dan Kashmir yang disengketakan pada Senin.
Bentrokan itu terjadi di tengah proses de-eskalasi di Lembah Galwan, Ladakh, di mana kedua pasukan terlibat bentrok sejak awal Mei.
Ketegangan perbatasan antara kedua negara telah ada selama lebih dari tujuh dekade.
China mengklaim wilayah di timur laut India, sementara New Delhi menuduh Beijing menduduki wilayahnya di dataran tinggi Aksai Chin di Himalaya, termasuk sebagian dari wilayah Ladakh.