Maria Elisa Hospita
13 September 2019•Update: 14 September 2019
James Reinl
NEW YORK
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengungkapkan rencananya untuk mengatasi maraknya ujaran kebencian dan kekerasan terhadap kelompok-kelompok agama.
Pada Kamis, Guterres menguraikan skema untuk membantu pemerintah membangun situs-situs keagamaan yang lebih aman bagi para umatnya, sembari mencegah supremasi kulit putih, neo-Nazi dan kelompok ekstremis lainnya yang kerap melecehkan kelompok-kelompok agama minoritas.
"Rumah ibadah di seluruh dunia harus menjadi tempat berlindung yang aman untuk refleksi dan perdamaian, bukan tempat pertumpahan darah dan teror," tandas sekjen PBB itu.
PBB merancang skema tersebut setelah seorang pria bersenjata menyerang umat Muslim ketika salat Jumat di Christchurch, Selandia Baru, pada Maret.
Serangan lainnya yang menimbulkan kekhawatiran besar adalah serangan di sebuah sinagog di Pittsburgh, AS, pada Oktober tahun lalu, yang menewaskan 11 jemaah.
“Dunia kita tak aman karena gelombang anti-Semitisme, kebencian anti-Muslim, serangan terhadap orang-orang Kristen, dan kelompok agama lainnya,” cetus Guterres.
Rencana aksi disusun oleh diplomat Spanyol Miguel Moratinos, yang mengepalai Aliansi Peradaban PBB, sebuah kelompok yang dipimpin oleh Turki dan Spanyol yang bertujuan meningkatkan pemahaman antara budaya dan masyarakat.
Dalam dokumen setebal 29 halaman - yang disebut Persatuan dan Solidaritas untuk Ibadah yang Aman dan Damai - menyebutkan cara-cara perlindungan situs keagamanan dan pencegahan tindak kekerasan terhadap kelompok-kelompok agama minoritas.
“Keberhasilan rencana akan bertumpu pada implementasinya dan komitmen berkelanjutan oleh semua pemangku kepentingan, khususnya negara-negara anggota, untuk bekerja secara aktif dalam pengamanan situs-situs keagamaan," tegas Moratinos.