10 Agustus 2017•Update: 10 Agustus 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Sejarah panjang perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari peran santri. Oleh karena itu, tidak perlu diragukan kesetiaan santri terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Santri itu punya ciri kemandirian, sederhana, persaudaraan yang kental, dan kepekaan spiritualitas," ujar Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siradj dalam pembukaan Hari Santri 2017 di Jakarta, Kamis malam.
Menurutnya, Nilai-nilai yang diajarkan di pesantren tidak akan ditemui pada sekolah lainnya, terutama terkait pembentukan akhlak dan pendidikan karakter.
"Pesantren telah melahirkan karakter bangsa yang mulia sejak lama," ucap dia.
Melalui pesantren, santri dididik untuk menganalisa persoalan secara logis, objektif, serta tidak gampang mengikuti emosi.
Santri juga sangat meneladani kiai dalam berbagai hal. Salah satunya ketika KH Hasyim Asyari mengeluarkan resolusi jihad pada 22 Oktober 1945. Saat itu, santri berada di garda terdepan berjuang merebut kemerdekaan. Tanggal 22 Oktober kini ditetapkan menjadi Hari Santri Nasional.
Nilai lainnya yang diperoleh pesantren adalah malu untuk melakukan kesalahan.
Santri diajarkan malu adalah bagian dari iman. Maka ketika santri menjadi pejabat akan malu korupsi karena Allah senantiasa memantaunya.
"Ya walaupun ada satu dua santri yang bandel tapi hanya sebagian kecil," lanjutnya.
Oleh karena itu, Kiai Said mengatakan, peran santri dan pesantren dalam pembangunan bangsa tidak perlu diragukan lagi, sehingga sistem pendidikan yang dibuat harus menguatkan peran dan fungsi pesantren, bukan justru melemahkannya.