Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
03 Januari 2020•Update: 03 Januari 2020
Servet Gunerigok
WASHINGTON
Amerika Serikat pada Kamis mengkonfirmasi telah melakukan serangan yang menewaskan komandan Pasukan Quds dari Garda Revolusi Iran Qasem Soleimani di ibu kota Irak, Baghdad.
Serangan di dekat Bandara Internasional Baghdad itu menewaskan Qasem Soleimani, salah seorang komandan Garda Revolusi Iran, dan Abu Mahdi al-Muhandis, wakil presiden kelompok Hashd al-Shaabi, atau Unit Mobilisasi Populer (PMU).
"Atas arahan Presiden [Donald Trump], militer AS telah mengambil tindakan tegas untuk melindungi personil AS di luar negeri dengan membunuh Soleimani," kata Pentagon dalam sebuah pernyataan.
Soleimani adalah komandan Pasukan Quds, yang telah ditetapkan Amerika Serikat sebagai kelompok teroris sejak 2007.
Kelompok ini diperkirakan memiliki 20.000 anggota.
Pada Juli 2018, Soleimani menantang Presiden AS Donald Trump yang memberi peringatan bahwa Iran akan menerima konsekuensi jika terus mengancam Washington.
Tak lama setelah laporan tentang terbunuhnya kedua pemimpin militer Iran tersebut, Trump mengunggah gambar bendera AS di akun Twitter-nya tanpa memberi komentar.
Pentagon menuduh Soleimani berencana melakukan serangan terhadap diplomat dan tentara AS di Irak dan Timur Tengah serta bertanggung jawab atas kematian ratusan tentara Amerika dan koalisi.
Serangan itu terjadi di tengah ketegangan Teheran dengan Washington, setelah ribuan warga Irak menyerbu kompleks Kedutaan Besar AS pada Selasa untuk memprotes serangan udara terhadap milisi Kataib Hezbollah di Irak dan Suriah pada Minggu yang menewaskan sedikitnya 25 pejuang.
Serangan udara itu dilancarkan sebagai tanggapan terhadap serangan roket di pangkalan militer AS di Kirkuk pada Jumat.
AS menuduh Kataib Hezbollah, bagian dari kelompok Hashd al-Shaabi yang didukung Iran, sebagai pelaku serangan yang menewaskan seorang kontraktor AS dan melukai empat tentara AS.
*Gozde Bayar berkontribusi pada berita ini dari Ankara