Muhammad Mussa
15 April 2018•Update: 16 April 2018
Muhammad Mussa
LONDON
Pimpinan oposisi Inggris Jeremy Corbyn mengkritik Perdana Menteri Theresa May yang tidak berkonsultasi dengan parlemen sebelum mengizinkan militer Inggris bergabung dengan Amerika Serikat dan Prancis untuk melancarkan serangan udara di Suriah.
Dalam sebuah pernyataan yang dimuat di Facebook, Corbyn, yang juga pimpinan Partai Buruh, mengatakan: Theresa May seharusnya meminta persetujuan parlemen, bukan mengekor Donald Trump.
"Pemerintah harus melakukan berbagai hal untuk menekan Rusia dan Amerika Serikat untuk menyetujui sebuah investigasi independen yang dipimpin PBB terkait penggunaan senjata kimia minggu lalu sehingga mereka yang bertanggung jawab dapat dimintai pertanggungjawabannya"
"Aksi yang dipertanyakan ini beresiko meningkatkan eskalasi, sebagaimana Menteri Pertahanan AS James Mattis akui, sebuah konflik yang besar dan, oleh karena itu, bentuk sebuah pertanggungjawaban yang nyata untuk kejahatan perang dan penggunaan senjata kimia lebih sedikit, tidak membuatnya lebih besar. ”
Menteri Luar Negeri Boris Johnson, mendukung keputusan Theresa May.
Dalam cuitan di Twitter, Johnson mengatakan: "Selamat datang kabar serangan militer Inggris terhadap fasilitas senjata kimia di Suriah bersama sekutu kami AS dan Prancis.
"Dunia bersatu terhadap penggunaan senjata kimia, tetapi terutama terhadap masyarakat sipil."
Pada Sabtu, AS, Inggris, dan Prancis melancarkan serangan udara yang menargetkan tempat penyimpanan senjata kimia rezim Assad di Suriah. Beberapa negara barat mendukung serangan tersebut, Rusia mengutuk sepenuhnya serangan tersebut, dan menyatakan Rusia mencegah 71 dari 100 lebih serangan yang dilancarkan.
Pada 7 April, The White Helmets, sebuah badan pertahanan sipil, mengklaim bahwa rezim Assad mengunakan serangan kimia, yang menewaskan 78 warga sipil dan melukai ratusan lainnya.
Berbicara dalam sebuah konferensi setelah serangan dilakukan, May mengatakan: "Ini bukan mengenai mencampuri perang saudara. Dan ini bukan mengenai mengganti rezim. Sebagaimana yang telah saya diskusikan bersama Presiden Trump dan Presiden Macron, serangan ini membatasi, menargetkan dan efektif dengan batas yang secara jelas menghindari eskalasi dan melakukan segala hal untuk mencegah munculnya korban jiwa dari masyarakat sipil," menurut pernyataannya di Sky News.