Eshat Firat
08 Desember 2017•Update: 10 Desember 2017
Eshat Firat
RAMALLAH
Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas dan mantan pimpinan Hamas Khaled Mashal pada Kamis berdiskusi lewat telepon mengenai keputusan administrasi Presiden Amerika Serikat (AS) yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, serta proses rekonsilliasi Palestina.
Menurut kantor berita Palestina WAFA, selama diskusinya, Abbas menegaskan perlunya memperkuat persatuan nasional dan mengakhiri perpecahan internal sesegera mungkin.
Abbas juga menekankan bahwa mereka perlu bekerja sama dalam menyelesaikan masalah Palestina, termasuk juga masalah Yerusalem baru-baru ini.
Meskipun dihujani kecaman, Presiden AS Donald Trump pada Rabu mengumumkan pengakuan AS atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
Menurut Trump, Departemen Luar Negeri AS saat ini tengah mempersiapkan pemindahan kedutaan besar dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Perubahan dramatis dalam kebijakan AS memicu aksi protes di wilayah Palestina yang dijajah, Turki, Mesir, Yordania, Algeria, Irak, dan negara-negara Muslim lainnya.
Yerusalem masih menjadi poros konflik Israel-Palestina, karena rakyat Palestina menginginkan Yerusalem Timur - yang diduduki Israel - sebagai ibu kotanya di masa yang akan datang.