Rhany Chairunissa Rufinaldo
18 September 2018•Update: 19 September 2018
Jihad al-Nabhan
RAMALLAH, Palestina
Hanan Ashrawi, anggota Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), mengecam keputusan pemerintah AS baru-baru ini yang mencabut visa tinggal dubes Palestina dan keluarganya.
"Seolah-olah pengumuman bahwa AS akan menutup kantor kami di Washington D.C. tidak cukup, tindakan balas dendam oleh pemerintahan Trump ini adalah dengki," kata Ashrawi dalam pernyataan pada Minggu yang dilakukan oleh kantor berita resmi Palestina, Wafa.
"AS telah mengambil tindakan untuk menekan dan memeras warga Palestina," tambahnya.
Washington baru-baru ini mencabut visa tinggal Husam Zomlot, kepala delegasi umum PLO untuk AS, dan anggota keluarganya, sementara juga membekukan rekening bank diplomat tersebut.
Langkah itu dilakukan tidak lama setelah pemerintah AS mengumumkan penutupan kantor PLO di Washington, yang juga berfungsi sebagai kedutaan Palestina.
"Dengan sengaja menargetkan keluarga Duta Besar Zomlot, pemerintah AS telah berubah dari penghukuman yang kejam ke pembalasan dendam terhadap Palestina dan kepemimpinannya, bahkan sampai menyebabkan kesulitan bagi anak-anak dan keluarga mereka yang tidak berdosa," kata Ashrawi.
Dia menambahkan bahwa "Langkah yang sangat tidak pantas" semacam itu, "bertentangan dengan semua protokol diplomatik dan merupakan eskalasi tidak manusiawi dari pihak pemerintahan Trump untuk bertahan dalam kebijakan tekanan dan pemerasannya."
Terlebih lagi, AS baru-baru ini membatalkan semua pendanaan untuk badan pengungsi Palestina yang kekurangan uang, UNRWA.
Langkah-langkah itu dilakukan ketika pemerintah AS bersiap untuk mengungkap rencana perdamaian jalur belakang yang kontroversial, yang rinciannya masih samar sampai sekarang.
Pejabat Palestina, bagaimanapun, telah menolak peran AS dalam proses perdamaian sejak Presiden AS Donald Trump secara sepihak mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel tahun lalu.