Zehra Nur Düz
24 November 2019•Update: 24 November 2019
Yusuf Ozcan
PARIS
Para pemrotes di Prancis yang dikenal dengan kelompok Rompi Kuning masih turun ke jalan-jalan di seluruh Prancis pada Sabtu.
Aksi mereka menandai 54 minggu secara berturut-turut melawan Presiden Emmanuel Macron.
Para pengunjuk rasa berkumpul di Estienne-d'Orves Square dan berbaris menuju alun-alun Felix Eboue.
Selain Paris, protes diadakan di berbagai kota di negara itu.
Polisi melarang kelompok itu menggelar protes di Champs-Elysees, sekitar Katedral Notre-Dame yang rusak parah setelah kebakaran pada bulan April, kata Majelis Nasional dan Istana Elysee.
Protes telah dimulai pada 17 November 2018, sebagai reaksi terhadap kenaikan harga bahan bakar dan ketidakadilan ekonomi, tetapi kemudian meningkat menjadi kerusuhan anti-pemerintah yang mematikan.
Para pengunjuk rasa memutuskan untuk menggunakan rompi kuning, bagian dari cara mereka memiliki standar keselamatan dan membuat anggota mereka lebih mudah terlihat.
Demonstrasi telah menyebabkan 11 orang tewas dan lebih dari 4.000 terluka sejak dimulainya protes, termasuk pengunjuk rasa dan polisi, menurut pemerintah Prancis.
Aktivis mengklaim sebanyak 24 orang demonstran kehilangan mata dan lima orang kehilangan tangan.
Paling tidak sekitar 8.400 orang telah ditangkap sejak awal protes Rompi Kuning, dan 2.000 orang ditahan.
Sebanyak 17 pemrotes ditangkap di Toulouse dan lima orang, termasuk dua polisi dan tiga warga sipil, terluka.
* Ditulis oleh Zehra Nur Duz