Rhany Chairunissa Rufinaldo
22 Juli 2019•Update: 22 Juli 2019
Gulsen Topcu
DOHA, Qatar
Qatar mendesak semua pihak untuk menahan diri di tengah peningkatan ketegangan di Selat Hormuz baru-baru ini.
"Qatar menekankan perlunya untuk segera menangani insiden-insiden ini dan menyatakan keprihatinan. Negara juga meminta semua pihak untuk menahan diri dan berupaya mencapai jalan keluar yang damai," kata Kementerian Luar Negeri dalam sebuah pernyataan tertulis, Minggu.
Pada Jumat, Iran mengatakan telah menyita tanker Inggris Stena Impero di Selat Hormuz.
Langkah itu dilakukan menyusul penyitaan kapal tanker minyak berbendera Iran di lepas pantai Gibraltar, wilayah luar negeri Inggris yang berbatasan dengan Spanyol selatan.
Pihak berwenang mengatakan kapal berbendera Inggris berbobot 30.000 ton itu dibawa ke Iran untuk diproses sesuai hukum.
Menurut Inggris, tanker Iran itu dicurigai menyelundupkan minyak ke Suriah, melanggar sanksi UE terhadap rezim Bashar al-Assad.
Iran menuntut pembebasan awak dan kapalnya dan menuduh Angkatan Laut Kerajaan Inggris melakukan pembajakan.
Teheran juga mengancam London dengan tindakan balas dendam, memicu peningkatan ketegangan antara kedua negara di wilayah tersebut.
Kuwait mendesak upaya diplomatik untuk dipercepat
Kuwait juga menyatakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya ketegangan di wilayah tersebut.
Menurut kantor berita resmi KUNA pada Minggu, Kuwait mengimbau komunitas internasional untuk mempercepat upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan.
Pemerintah juga menekankan perlunya menahan diri dan menghormati hukum maritim internasional.
Sementara itu, Adel Al-Jubeir, Menteri Negara Urusan Luar Negeri Saudi, meminta komunitas internasional untuk mengambil tindakan terhadap penyitaan Iran atas kapal Inggris.
"Setiap serangan terhadap kebebasan navigasi adalah pelanggaran hukum internasional," tulis Al-Jubeir di Twitter, Minggu.
Dia menegaskan bahwa penyitaan kapal Inggris oleh Iran benar-benar tidak dapat diterima.