Rıskı Ramadhan
06 Maret 2018•Update: 06 Maret 2018
Mohamad Misto
GHOUTA TIMUR
Rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad pada Selasa dilaporkan kembali menggunakan senjata kimia dalam serangannya ke daerah Ghouta Timur, Suriah.
Menurut organisasi pertahanan sipil White Helmets di Ghouta Timur, rezim menyerang daerah Hammuriyah dengan gas klorin pada Senin malam.
Sejumlah 30 orang yang sebagian besarnya adalah anak-anak dan wanita terkena dampak serangan tersebut. Dua di antaranya adalah karyawan White Helmets.
Sebelumnya, rezim Assad juga menggunakan senjata kimia di Ghouta Timur hanya sehari setelah Dewan Keamanan PBB mengadopsi resolusi gencatan senjata selama 30 hari di Suriah. Sejumlah 16 warga sipil terkena dampak serangan tersebut.
Pada 27 Februari, Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) memulai penyelidikan menyusul semakin banyaknya kabar serangan dengan senjata kimia.
Dalam komitmen yang diberikan rezim kepada OPCW, penggunaan senjata kimia seharusnya telah dihentikan pada 19 Agustus 2014. Rezim terlibat dalam proses pemusnahan stok kimia yang diambil alih oleh OPCW menyusul pembunuhan lebih dari 1.400 warga sipil dengan senjata kimia di wilayah Ghouta Timur pada 21 Agustus 2013.
Namun setelah OPCW mengumukan bahwa proses pemusnahan seluruh stok telah selesai, rezim Assad masih terus menggunakan senjata kimia untuk membunuh dan juga menakut-nakuti agar orang-orang bermigrasi.
Pada 27 Oktober 2017, misi penyelidikan gabungan OPCW dan PBB (JIM) memaparkan laporan yang menyatakan rezim Assad bertanggung jawab atas pembantaian dengan senjata kimia di Khan Shaykhun, yang menewaskan lebih dari 100 warga sipil pada 4 April 2017 kepada Dewan Keamanan PBB.
Keputusan JIM tidak cukup untuk membawa pelaku-pelaku pembantaian ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Dewan Keamanan PBB yang harus melaporkan rezim ke ICC karena Suriah bukan anggota ICC, namun Dewan belum mengambil langkah seperti itu.