Pizaro Gozali İdrus
06 Maret 2018•Update: 07 Maret 2018
Pizaro Gozali
JAKARTA
Majelis Ulama Indonesia menyatakan telah mendengar aspirasi dari kelompok Tailiban terkait proses perdamaian Afghanistan.
Aspirasi ini disampaikan dalam dialog yang telah dilakukan beberapa kali antara MUI dengan High Peace Council (HPC) Afghanistan yang juga berisi ulama pro Taliban.
Ketua MUI Bidang Luar Negeri Muhyiddin Junaidi mengatakan Taliban meminta tidak ada lagi kekuataan asing di Afghanistan.
“Itu permintaan nomor satu,” jelas Muhyidin kepada Anadolu Agency, Selasa di Jakarta.
Selanjutnya, Taliban juga meminta Pemerintah Afghanistan untuk mau berbagi kekuasaan dengan mereka.
“Sebab selama ini Pemerintah Afghanistan tidak melibatkan Taliban,” ujar dia.
Taliban, kata Muhyiddin, juga meminta proses perdamaian dilakukan secara netral. Artinya, tidak ada upaya untuk menyetir kelompok perlawan terbesar di Afghanistan itu.
MUI sendiri menolak untuk mengategorikan Taliban sebagai kelompok teroris seperti yang dilakukan Amerika Serikat (AS). Proses perdamaian, kata Muhyddin, menuntut agar mediator menghindari stigma terhadap kedua belah pihak.
“Tuduhan teroris akan menyinggung Taliban,” jelas Muhyiddin.
Namun demikian, dia menilai proses perdamaian antara Taliban dengan Pemerintah Afghanistan memerlukan waktu.
“Wakil Presiden bilang waktunya enam bulan. Nanti, setiap bulan ada pertemuan,” kata dia.
Muhyiddin pun menegaskan Indonesia siap memperpanjang pertemuan jika selama enam bulan Taliban dan Pemerintah Afghanistan belum mendapatkan titik temu.
MUI optimis Indonesia bisa menyelesaikan proses perdamaian di Afghanistan.
Sebab, kata Muhyiddin, harapan Afghanistan kini hanya kepada Indonesia setelah sebelumnya upaya mediasi gagal dilakukan Arab Saudi, Mesir, dan Qatar.
Terlebih, kata Muhyyidin, Indonesia tidak memiliki kepentingan seperti Rusia dan Amerika di Afghanistan.
“Indonesia on the track,” Muhyiddin.